TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Konsumen yang semakin selektif menuntut pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Tasikmalaya lebih cermat menyusun strategi bisnis.
Menurunkan harga bukan satu-satunya jalan untuk mempertahankan pembeli. Kualitas produk, pelayanan, pilihan harga, hingga pemasaran digital juga perlu diperkuat.
Dosen STIMIK DCI sekaligus Direktur Soekapura Institut, Danial Kusumah, M.M., mengatakan perubahan perilaku konsumen harus dibaca sebagai tantangan sekaligus peluang bagi pelaku UMKM untuk beradaptasi.
Baca Juga:GP Ansor Kritik Arah Pembangunan Kota Tasikmalaya, Jangan Cuma Bangga Jadi Kota SantriOhan Hafidz Gelombang II Diluncurkan, Kota Tasikmalaya Lanjutkan Pembinaan Generasi Qur’ani
Menurut dia, perang harga tanpa perhitungan yang matang justru berisiko menekan keuntungan dan mengganggu keberlangsungan usaha.
Harga murah memang bisa menarik pembeli, tetapi belum tentu cukup untuk membuat mereka kembali berbelanja.
“Respons UMKM tidak cukup hanya dengan menurunkan harga. Mereka perlu menyesuaikan ukuran produk, menyediakan pilihan paket ekonomis, memperbaiki pelayanan, menjaga mutu, dan memanfaatkan pemasaran digital,” kata Danial, Jumat (23/10/2026).
Salah satu strategi yang dapat dilakukan ialah menyediakan produk dengan ukuran dan paket berbeda.
Dengan begitu, konsumen memiliki pilihan sesuai kemampuan belanja tanpa harus kehilangan akses terhadap produk yang dibutuhkan.
Strategi ini juga memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas.
Namun, penyesuaian harga dan ukuran produk tetap harus memperhitungkan biaya produksi agar keuntungan tidak sekadar terlihat di atas kertas.
Baca Juga:Baru Dilantik, Gekrafs Kota Tasikmalaya Buktikan Kinerja Lewat Pekraf dan Dipuji WamenekrafStok Darah RSUD dr. Soekardjo Terbantu, Ratusan Prajurit Macan Putih Turun Tangan
Di tengah banyaknya pilihan produk, kualitas dan pelayanan juga menjadi faktor penting untuk menjaga loyalitas pelanggan.
UMKM perlu memastikan produk tetap memenuhi standar mutu, sementara pelayanan yang baik dapat menjadi pembeda ketika konsumen memiliki banyak alternatif.
Selain membenahi produk dan pelayanan, pelaku UMKM perlu mengoptimalkan pemasaran digital.
Media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk, membangun komunikasi dengan pelanggan, sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Namun, Danial mengingatkan pemasaran digital sebaiknya tidak berhenti pada jumlah tayangan, tanda suka, atau ramainya komentar.
Ukuran keberhasilannya perlu dilihat dari kemampuan promosi menghasilkan transaksi dan meningkatkan omzet.
Dengan kata lain, konten yang ramai belum tentu membuat kas usaha ikut ramai.
Pelaku UMKM perlu mengevaluasi strategi promosi berdasarkan hasil penjualan, bukan sekadar angka interaksi di layar.
