TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Upacara Hari Santri Nasional sudah selesai. Tapi acara untuk Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan rupanya belum.
Justru acara berikutnya baru dimulai.Begitu upacara di Stadion Wiradadaha, Kamis (22/10/2026), usai, Viman langsung dikerubuti para santri. Mereka berebut mendekat. Ada yang ingin bersalaman. Ada yang ingin berfoto bersama. Ada pula yang tampaknya ingin mendapatkan keduanya sekaligus.
Viman hari itu tampil sederhana. Celana hitam. Baju koko putih. Kopiah hitam. Tidak perlu podium besar. Tidak perlu pengeras suara tinggi. Tidak perlu protokoler panjang. Cukup berdiri di panggung kerumunan santri pun berdatangan. Maka, jadilah wali kota itu seperti selebritas dadakan.
Baca Juga:Madinah Kecil di Kota Santri! Tahun 1888 Masjid Agung Kota Tasikmalaya Berdiri, Baru 2002 Kurma MenghiasiSehat Jasmani, Rohani dan Ekonomi di HUT Kota Tasikmalaya
Tangan Viman berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Senyumnya mengembang. Permintaan foto diladeni satu per satu. Tidak tampak ia buru-buru meninggalkan kerumunan.
Hari Santri, kata Viman, merupakan kebahagiaan sekaligus rasa syukur bagi para santri. Karena itu, menurut dia, wajar jika mereka mengekspresikan kegembiraannya dengan cara masing-masing.
Benar juga. Kebahagiaan memang tidak selalu membutuhkan panggung. Kadang cukup dengan kesempatan bertemu orang yang selama ini hanya dilihat dari kejauhan.
Apalagi kalau orang itu wali kota sendiri. Bisa jadi, sebagian santri jarang bertemu langsung dengan kepala daerahnya. Jarang bersalaman. Jarang menyapa. Apalagi berdiskusi panjang tentang kehidupan pesantren, pendidikan santri, atau masa depan generasi muda Tasikmalaya.
Maka, ketika kesempatan itu datang, mereka tidak mau menyia-nyiakannya. Satu foto bisa menjadi kenangan. Satu salaman bisa menjadi cerita yang dibawa pulang ke pesantren.
Setidaknya, itulah yang tergambar dari antusiasme para santri dalam video yang diunggah melalui akun Viman Alfarizi. Ada sesuatu yang menarik dari kerumunan itu.
Wali kota biasanya dikerumuni pejabat. Atau orang-orang yang punya urusan dengan pemerintah. Kali ini yang mengerubutinya para santri.
Baca Juga:Urusan Aset Perlu Dituntaskan, Dibahas Ikatan Purna Anggota DPRD Kota TasikmalayaGPI Soroti Tambang di Mangkubumi Kota Tasikmalaya
Mereka datang membawa ponsel. Untuk berfoto. Tentu, foto bersama bukan ukuran tunggal keberhasilan seorang kepala daerah. Tetapi antusiasme semacam itu menunjukkan adanya ruang kedekatan yang bisa dibangun antara pemimpin dan masyarakatnya.
Tantangannya justru dimulai setelah foto selesai. Sebab santri tidak hanya membutuhkan wali kota yang bersedia diajak berswafoto. Mereka juga membutuhkan pemimpin yang bersedia mendengar.
