Mendengar kebutuhan pesantren. Memikirkan akses pendidikan. Membuka kesempatan bagi anak-anak muda. Dan memastikan bahwa suara masyarakat tidak berhenti sebagai latar belakang foto kegiatan pemerintah.
Hari Santri semestinya bukan hanya perayaan seremonial. Ia juga pengingat bahwa pesantren memiliki sejarah panjang dalam pendidikan, perjuangan, dan pembentukan karakter bangsa.
Ada hal lain yang ikut mewarnai pertemuan itu. Debu. Lapangan Stadion Wiradadaha tampak berdebu. Musim kering yang berlangsung berbulan-bulan tanpa hujan membuat tanah lapangan mudah beterbangan ketika banyak orang berkumpul dan bergerak.
Baca Juga:Madinah Kecil di Kota Santri! Tahun 1888 Masjid Agung Kota Tasikmalaya Berdiri, Baru 2002 Kurma MenghiasiSehat Jasmani, Rohani dan Ekonomi di HUT Kota Tasikmalaya
Para santri tetap antusias. Viman pun tetap meladeni mereka. Baju putih, kopiah hitam, senyum, jabat tangan, dan debu lapangan menjadi satu pemandangan pada Hari Santri tahun ini.
Ada yang berswafoto sambil tersenyum. Ada yang mengulurkan tangan dari sela-sela kerumunan. Ada yang menunggu giliran agar tidak pulang tanpa kenangan.
Debu mungkin menempel di pakaian. Tetapi suasana hari itu memperlihatkan bahwa jarak antara pemimpin dan masyarakat tidak selalu harus dibatasi oleh podium.
Meski begitu, kedekatan yang paling penting bukanlah seberapa dekat seseorang berdiri ketika berfoto. Melainkan seberapa dekat seorang pemimpin memahami kehidupan orang-orang yang dipimpinnya.
Hari itu, para santri mendapatkan kesempatan bersalaman dengan wali kotanya. Sesudah Hari Santri berlalu, pertanyaan berikutnya sederhana: kapan mereka mendapatkan kesempatan untuk didengar?. (red)
