PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Megah saat dibangun, meredup setelah ditinggalkan.
Alun-Alun Pangbagea di Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, kini justru memprihatinkan.
Ruang publik yang rampung pada 2021 itu kehilangan denyut aktivitas, pedagang berguguran, sementara sejumlah fasilitas dibiarkan tak berfungsi optimal.
Kondisi tersebut memunculkan sorotan terhadap keberlanjutan pengelolaan aset publik yang dibangun menggunakan anggaran besar.
Baca Juga:Bukan Sekadar Viral, Pemuda Tasikmalaya Harus Jadi Agen PerubahanLaptop Kreator Makin Perkasa! ASUS ProArt P14 dan P16 dengan Nvidia RTX Spark Resmi Hadir
Tanpa perawatan dan kegiatan rutin, alun-alun yang sempat menjadi pusat keramaian itu perlahan kehilangan daya tariknya.
Kepala Desa Cintakarya, Wawang Darmawan mengungkapkan, geliat ekonomi masyarakat di kawasan tersebut hanya bertahan sesaat setelah alun-alun diresmikan.
Kini, pedagang yang dahulu meramaikan lokasi itu memilih pergi karena minimnya pengunjung dan pembeli.
“Sekarang sudah tidak ada pedagang karena sepi, tidak ada yang membeli. Saya melihat kondisi Alun-Alun Pangbagea memang sangat memprihatinkan,” ujar Wawang kepada wartawan, Rabu (21/10/2026).
Menurut dia, besarnya anggaran yang telah digelontorkan untuk pembangunan alun-alun semestinya diikuti pengelolaan yang berkesinambungan.
Namun, ketika perhatian terhadap fasilitas publik melemah, investasi yang seharusnya memberi manfaat bagi masyarakat justru berisiko menjadi aset yang kehilangan fungsi.
“Dulu itu bukan pakai uang kecil, tetapi uang besar. Mungkin karena tidak ada pengelolaan dari pemerintah daerah, tempatnya sekarang menjadi kumuh,” tuturnya.
Baca Juga:Mahasiswa Filipina Bakal Magang di Kota Tasikmalaya, Peluang Ekspor UMKM TerbukaMahasiswa Bisnis Pariwisata UMB Siap Hadapi Pasar Global, Perkuat Narasi dan Literasi Digital
Saat ini, aktivitas di Alun-Alun Pangbagea lebih banyak terbatas pada olahraga warga pada pagi hari, seperti joging.
Di luar itu, kawasan tersebut belum kembali menjadi ruang berkumpul yang mampu menghidupkan kegiatan sosial maupun ekonomi masyarakat.
Sejumlah fasilitas pendukung juga menjadi perhatian, terutama penerangan jalan umum (PJU) yang sudah lama tidak menyala secara optimal.
Lampu-lampu di kawasan itu biasanya baru difungsikan ketika ada kegiatan tertentu.
Wawang mencontohkan, penerangan baru kembali menyala saat Pemerintah Desa Cintakarya menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus lalu.
Kondisi ini memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar kawasan yang sepi.
Ruang publik membutuhkan pemeliharaan rutin, fasilitas yang berfungsi, serta agenda kegiatan agar keberadaannya tidak berhenti sebatas bangunan yang pernah diresmikan.
