PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Ratusan warga memadati kawasan Pangandaran Sunset, Senin (19/10/2026) pagi, untuk menyaksikan Pangandaran Icon Carnival 2026.
Beragam kostum, ikon daerah, hingga pesan pelestarian lingkungan dipamerkan dalam parade yang menjadi bagian dari Milangkala ke-14 Kabupaten Pangandaran tersebut.
Namun, di balik kemeriahan parade dan kreativitas warga, tantangan promosi pariwisata tetap menanti.
Baca Juga:290 Atlet dari 18 Kota dan Kabupaten Berebut Tiket Prestasi di GOR Susi Susanti, PBSI Jabar Bidik KejurnasSinergi Foundation Ajak Publik Ubah Solidaritas Palestina Jadi Aksi Nyata
Sebab, memperkenalkan potensi daerah lewat karnaval tidak cukup jika gaungnya hanya terasa saat acara berlangsung.
Dibutuhkan strategi berkelanjutan agar kreativitas masyarakat benar-benar berujung pada kunjungan wisatawan dan perputaran ekonomi lokal.
Dalam karnaval tersebut, perwakilan dari berbagai desa menampilkan kreasi yang mengangkat kekayaan budaya dan potensi daerah.
Mulai dari busana tradisional Pasundan, motif bunga matahari, pesan konservasi penyu, hingga replika kuda menjadi bagian dari parade yang disaksikan Bupati Pangandaran Citra Pitriyami, Wakil Bupati Ino Darsono, serta jajaran pejabat pemerintah daerah.
Bupati Pangandaran Citra Pitriyami mengapresiasi panitia dan seluruh pihak yang terlibat.
Menurut dia, karnaval bukan sekadar tontonan untuk memeriahkan hari jadi daerah, melainkan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan dan menunjukkan identitas lokal melalui karya kreatif.
“Tentu, kegiatan ini menjadi ruang untuk menampilkan ide, gagasan, dan kreativitas masyarakat yang dikemas melalui berbagai kreasi khas daerah,” katanya.
Baca Juga:Honda Stylo 160 Bidik Gaya Hidup Komunitas, Riding Kini Berpadu Musik dan FashionMusim Hujan Segera Tiba, Pupuk Kujang Siapkan 98 Ribu Ton Pupuk Subsidi di Jabar
Citra menilai, kekuatan pariwisata Pangandaran tidak hanya bertumpu pada keindahan alam.
Kekayaan budaya, karakter masyarakat, serta inovasi warga juga dapat menjadi modal untuk memperluas daya tarik destinasi wisata.
“Melalui kegiatan ini, potensi daerah tidak hanya diperkenalkan lewat keindahan alam, tetapi juga melalui kekayaan budaya, karakter masyarakat, serta ide-ide kreatif yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan,” ungkapnya.
Ia berharap, keterlibatan berbagai unsur masyarakat, terutama perwakilan desa, dapat terus melahirkan inovasi dalam mempromosikan potensi wisata Pangandaran.
“Dengan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, kita harap kegiatan ini dapat mendorong lahirnya inovasi dalam promosi pariwisata,” ucapnya.
Pangandaran Icon Carnival memperlihatkan bahwa desa memiliki modal kreativitas untuk mendukung promosi daerah.
Akan tetapi, pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan kreasi tersebut tidak berhenti sebagai tontonan sesaat.
