Mobilitas masyarakat diharapkan semakin terbuka tanpa harus selalu bergantung pada kendaraan pribadi.
Gumilar menilai, perjalanan menggunakan kereta api juga bisa menjadi alternatif rekreasi. Masyarakat dapat menikmati perjalanan sekaligus mengunjungi daerah-daerah yang dilalui.
“Selain menjadi sarana transportasi, nantinya juga ada sisi hiburannya. Masyarakat bisa menikmati perjalanan menggunakan kereta sekaligus mengunjungi daerah-daerah yang dilalui,” jelasnya.
Baca Juga:Mapay Lembur Jilid II: Tangis Emak Jompo dan Doa untuk Presiden Prabowo!Kemiskinan Kota Tasikmalaya Turun ke 9,34 Persen, Viman: Berkat Kerja Kompak Bersama Seluruh Pihak
Dari sisi biaya, layanan ini diharapkan menjadi pilihan yang lebih ramah bagi kantong masyarakat, terutama mereka yang rutin bepergian untuk bekerja, bersekolah, maupun menjalankan aktivitas ekonomi.
Konektivitas yang lebih baik juga berpotensi mendorong pergerakan orang dan kegiatan ekonomi di Priangan Timur. Namun, manfaat tersebut baru akan dirasakan apabila rencana pengoperasian benar-benar terwujud.
Di tengah kebutuhan transportasi publik yang terjangkau, realisasi kereta lokal Priangan Timur menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah lintas wilayah.
Sebab, pengajuan dan pembahasan saja belum cukup untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang menantikan pilihan perjalanan lebih murah.
Saat ini, surat dari Gubernur Jawa Barat masih menjadi salah satu tahapan yang ditunggu sebelum pemerintah daerah melanjutkan proses administrasi berikutnya.
Belum ada kepastian waktu pengoperasian dalam keterangan yang disampaikan Gumilar. Karena itu, rute yang telah diwacanakan belum bisa dipastikan kapan dapat dinikmati masyarakat.
Kereta lokal Priangan Timur berpotensi menjadi solusi mobilitas warga sekaligus penggerak ekonomi daerah.
Baca Juga:Listriknya Terang, PAD-nya Remang-RemangJangan Biarkan Kebaikan Terpecah! Zikir Bersama Jadi Ikhtiar Satukan Pedagang Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya
Namun, harapan itu perlu diikuti kepastian tahapan, koordinasi yang efektif, dan tindak lanjut yang terukur agar tidak sekadar menjadi rencana yang terus berpindah dari satu meja birokrasi ke meja lainnya.
Sebab, bagi masyarakat, transportasi murah bukan sekadar wacana konektivitas. Yang dibutuhkan adalah layanan nyata, tarif terjangkau, dan kepastian kapan kereta bisa dinaiki. (ujang nandar)
