PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Ketika jalan rusak tak kunjung diperbaiki, warga akhirnya harus merogoh kocek sendiri.
Di Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, masyarakat patungan Rp100 ribu per kepala keluarga (KK) demi menambal jalan yang kondisinya sudah dikeluhkan selama belasan hingga puluhan tahun.
Ironisnya, jalan sepanjang kurang lebih tiga kilometer itu bukan sekadar jalur penghubung biasa.
Baca Juga:Bank Mandiri Hadirkan ATM Emas, Investasi Mulai Rp10 Ribu Bisa Jadi Logam MuliaMapay Lembur Jilid II: Tangis Emak Jompo dan Doa untuk Presiden Prabowo!
Akses tersebut menjadi urat nadi warga menuju perkebunan dan persawahan, sekaligus berpotensi menjadi jalur pendukung menuju objek wisata Batukaras.
Namun, untuk sekadar mengurangi lubang jalan, warga justru harus mengandalkan uang sendiri.
Dengan dana hasil iuran, warga membeli batu kapur putih untuk menutup lubang-lubang yang menganga. Perbaikan dilakukan secara bergotong royong oleh masyarakat yang memiliki lahan di sepanjang jalur tersebut.
Salah seorang warga, Soleh, mengatakan, inisiatif itu muncul karena masyarakat sudah terlalu lama menunggu perbaikan.
Upaya menyampaikan persoalan kepada pemerintah desa, menurut dia, belum membuahkan respons yang diharapkan.
“Jadi dulu saya pernah ke pihak desa, namun mereka tidak merespons sama sekali,” ungkapnya, Sabtu (17/10/2026).
Bagi warga, patungan tersebut bukan perkara ringan. Di tengah keterbatasan ekonomi, mereka harus menyisihkan uang pribadi agar jalan yang setiap hari digunakan untuk menunjang aktivitas pertanian bisa kembali dilalui dengan lebih aman.
Baca Juga:Kemiskinan Kota Tasikmalaya Turun ke 9,34 Persen, Viman: Berkat Kerja Kompak Bersama Seluruh PihakListriknya Terang, PAD-nya Remang-Remang
Namun, kemampuan warga tentu terbatas. Batu kapur putih yang ditebar di sepanjang jalan baru sebatas solusi darurat, bukan jaminan perbaikan permanen.
Jalan mungkin sedikit lebih nyaman dilintasi, tetapi persoalan mendasar belum benar-benar terselesaikan.
“Setidaknya jalan ini tidak banyak yang berlubang. Meskipun hanya menggunakan batu putih, tapi ini mampunya kami sebagai masyarakat,” tambah Soleh.
Persoalan semakin pelik ketika musim hujan tiba. Permukaan jalan menjadi licin dan berisiko membuat pengendara terjatuh.
Kondisi itu membuat akses yang semestinya menunjang aktivitas ekonomi justru bisa berubah menjadi ancaman keselamatan.
“Jalan ini akan terlihat aman kalau di musim kering. Tapi kalau hujan datang, sangat ditakuti, karena posisinya itu licin. Kalau yang jatuh itu banyak sebelum-sebelumnya,” paparnya.
