Yang Tata, Yang Titi!

tata dan titi
Foto kiri: Maskot HUT Kota Tasikmalaya ke-25, Tata dan Titi; sebelah kanan, GM Radar Tasikmalaya Grup, MR Hakim.
0 Komentar

Kritik adalah bagian dari cara sebuah kota memperbaiki diri. Pers harus tetap bertanya ketika ada kebijakan yang perlu dijelaskan. Masyarakat harus tetap bisa menyampaikan keluhan. Pemerintah harus punya ruang untuk mengakui kekurangan dan memperbaikinya.

Di situlah kesantunan menemukan maknanya. Bukan dengan membuat semua orang selalu setuju. Melainkan dengan memastikan perbedaan pendapat tidak menghilangkan rasa hormat.

Sebagai bagian dari ekosistem media di Tasikmalaya, Radar Tasikmalaya Grup memandang kota ini bukan hanya sebagai tempat berita diproduksi. Kota ini juga ruang hidup bersama.

Baca Juga:K3S: Dari Koordinasi Sampai Honor!Dari Senayan Kembali ke Cipasung!

Apa yang terjadi di pemerintahan akan dirasakan masyarakat. Apa yang dialami masyarakat layak mendapat perhatian pemerintah.

Karena itu, membangun kota bukan pekerjaan satu orang. Bukan hanya wali kota. Bukan hanya wakil wali kota. Bukan pula hanya aparatur pemerintah.

Ada pengusaha. Ada pedagang. Ada guru. Ada petani. Ada komunitas. Ada anak muda. Ada pekerja media. Ada warga yang setiap hari berusaha membuat keluarganya tetap bertahan.

Semua punya bagian. Dan pemerintah punya tanggung jawab untuk memastikan bagian-bagian itu bisa bekerja bersama.

Pada usia ke-25, Kota Tasikmalaya tentu layak merayakan perjalanan yang sudah ditempuh. Kita tidak perlu bersikap sinis terhadap setiap perayaan. Kota juga membutuhkan kegembiraan. Membutuhkan simbol. Membutuhkan identitas yang bisa dibanggakan bersama.

Dan Tata dan Titi bisa menjadi simbol itu. Tetapi simbol yang baik seharusnya tidak berhenti sebagai simbol. Ia harus mengingatkan. Ia harus menggerakkan. Ia harus membuat orang bertanya tentang makna di balik namanya.

Tata mengingatkan kita pada ketertiban. Titi mengingatkan kita pada kesantunan dan kreativitas. Sekarang tinggal memastikan keduanya tidak hanya hidup di spanduk, poster, dan unggahan media sosial.

Baca Juga:Pengangkatan Asep MP sebagai Dewas RSUD Dinilai Langkah NekatPansel Dewas RSUD dan DPRD Kota Tasikmalaya Rapat Tertutup Bahas Pengangkatan Asep MP

Sebab kota tidak akan menjadi tertib hanya karena punya maskot bernama Tata. Kota juga tidak otomatis menjadi santun hanya karena punya maskot bernama Titi.

Keduanya memerlukan kerja nyata dari orang-orang yang menjalankan pemerintahan. Dan kalau boleh berharap, setelah ulang tahun ke-25 ini, yang semakin terkenal bukan hanya nama maskotnya.

Tetapi juga kualitas pelayanannya. Ketertiban pengelolaan kotanya. Kemajuan ekonomi warganya. Dan keberanian pemerintah menyelesaikan persoalan yang selama ini belum tuntas. Tata dan Titi sudah diperkenalkan. Sekarang giliran kota membuktikan maknanya.

0 Komentar