Yang Tata, Yang Titi!

tata dan titi
Foto kiri: Maskot HUT Kota Tasikmalaya ke-25, Tata dan Titi; sebelah kanan, GM Radar Tasikmalaya Grup, MR Hakim.
0 Komentar

Semua memerlukan ketertiban. Tetapi ketertiban tidak cukup ditampilkan dalam logo. Ia harus terlihat dalam pekerjaan.

Kalau pasar ditata, pedagang harus merasakan manfaatnya. Kalau jalan dibangun, kualitasnya harus bisa dipertanggungjawabkan. Kalau pelayanan didigitalisasi, warga harus benar-benar lebih mudah mengurus keperluannya.

Jangan sampai yang paling tertib justru hanya tata letak acara peringatan hari jadi. Panggung rapi. Spanduk terpasang. Maskot tersenyum. Pejabat berfoto. Semuanya penting sebagai bagian dari perayaan.

Baca Juga:K3S: Dari Koordinasi Sampai Honor!Dari Senayan Kembali ke Cipasung!

Tetapi setelah panggung dibongkar, kota kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang berubah bagi masyarakat?

Di situlah Tata diuji. Bukan keberaniannya di dalam ilustrasi, melainkan keberanian pemerintah mengambil keputusan yang benar. Bukan keramahan dalam desain, melainkan keramahan pelayanan yang benar-benar dirasakan warga.

Lalu Titi. Namanya mengingatkan saya pada kreativitas. Pada kehalusan budi. Pada kemampuan mengolah sesuatu yang biasa menjadi bernilai.

Kota Tasikmalaya punya modal besar untuk itu. Payung Geulis, bordir, Kelom Geulis, batik, dan berbagai kerajinan lokal bukan sekadar ornamen untuk pakaian maskot.

Semua itu adalah sumber penghidupan. Di balik satu produk kerajinan, ada pengrajin. Ada keluarga. Ada biaya sekolah anak. Ada kebutuhan dapur. Ada harapan agar produknya dibeli lebih banyak orang.

Maka, cara terbaik menghormati budaya lokal bukan hanya mengenakannya pada maskot. Tetapi juga memastikan para pelaku industrinya punya pasar.

Kalau Payung Geulis dikenakan Tata dan Titi, bagus. Akan lebih bagus kalau pengrajinnya ikut menikmati peningkatan pendapatan.

Baca Juga:Pengangkatan Asep MP sebagai Dewas RSUD Dinilai Langkah NekatPansel Dewas RSUD dan DPRD Kota Tasikmalaya Rapat Tertutup Bahas Pengangkatan Asep MP

Kalau batik Tasik dipromosikan, bagus. Akan lebih bagus kalau promosi itu mendatangkan pembeli. Kalau ekonomi kreatif disebut sebagai kebanggaan, bagus. Akan lebih bagus kalau kebanggaan itu berubah menjadi transaksi.

Sebab kebudayaan memang tidak selalu harus menghasilkan uang. Tetapi orang yang menjaga kebudayaan tetap harus bisa hidup layak.

Itulah tugas Titi yang sesungguhnya: mengingatkan bahwa kreativitas bukan sekadar urusan penampilan. Kreativitas juga urusan kesejahteraan.

Saya juga tertarik pada tema hari jadi tahun ini: Langkah Santun Jiwa Tangguh. Kalimatnya indah.

Santun bukan berarti tidak boleh mengkritik. Tangguh bukan berarti harus selalu terlihat kuat. Pemerintahan yang tangguh justru pemerintahan yang tidak alergi terhadap kritik.

0 Komentar