PANGANDARAN, RADSIK – Pelayanan kepolisian yang inklusif tak cukup berhenti pada slogan.
Semua warga, termasuk anak-anak penyandang disabilitas, perlu mendapat ruang yang setara untuk mengenal dan berinteraksi dengan aparat.
Upaya itu dilakukan Polres Pangandaran melalui kegiatan edukasi bersama puluhan murid Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Widi Asih Parigi, Kamis (15/10/2026).
Baca Juga:Kemiskinan Kota Tasikmalaya Turun ke 9,34 Persen, Viman: Berkat Kerja Kompak Bersama Seluruh PihakListriknya Terang, PAD-nya Remang-Remang
Melalui program Polisi Sahabat Anak, para siswa diajak mengenal tugas dan fungsi kepolisian secara langsung.
Kegiatan yang dikemas dalam agenda outing class tersebut menjadi ruang belajar di luar kelas sekaligus upaya memperkenalkan sosok polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.
SLBN Widi Asih berada di Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.
Sekolah tersebut mendidik anak-anak dengan beragam disabilitas, mulai dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita hingga tunadaksa.
Kapolres Pangandaran AKBP Ikrar Potawari melalui Kanit Kamsel Satlantas Polres Pangandaran Aiptu Acep Yudi Heriyanto mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan pelayanan kepolisian yang merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.
“Melalui kegiatan Polisi Sahabat Anak ini, kami ingin mengenalkan sosok polisi yang ramah, bersahabat, dan siap membantu masyarakat. Kami berharap kegiatan ini memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi para siswa serta menjadi kesempatan untuk belajar dan berinteraksi langsung dengan anggota kepolisian,” kata Acep.
Pendekatan yang hangat dan interaktif diterapkan agar para siswa merasa aman, dihargai, serta lebih mudah memahami peran polisi dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga:Jangan Biarkan Kebaikan Terpecah! Zikir Bersama Jadi Ikhtiar Satukan Pedagang Pasar Cikurubuk Kota TasikmalayaAMI: Kritisnya Kapan-Kapan!
Interaksi langsung juga diharapkan mampu menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri anak-anak.
Polres Pangandaran menyatakan akan terus membangun sinergi dengan sektor pendidikan untuk memperluas edukasi kepolisian, termasuk bagi anak-anak penyandang disabilitas.
Namun, pelayanan inklusif tentu tak cukup diukur dari satu kegiatan edukasi.
Konsistensi dalam memberikan akses pelayanan yang ramah, mudah dijangkau, dan setara bagi penyandang disabilitas menjadi pekerjaan berkelanjutan agar semangat Polisi Sahabat Anak benar-benar terasa di tengah masyarakat. (deni nurdiansah)
