Peningkatan kapasitas petani dan penyadap juga menjadi perhatian, terutama terkait pembibitan, teknik budidaya, pemeliharaan tanaman hingga teknik penyadapan. Peningkatan kemampuan tersebut diharapkan berdampak terhadap produktivitas sekaligus kualitas nira.
“Produktivitas tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon. Kemampuan sumber daya manusianya juga harus diperkuat, terutama dalam pembibitan, budidaya, pemeliharaan dan teknik penyadapan. Dengan begitu, kuantitas nira meningkat dan kualitasnya tetap terjaga,” bebernya.
Pemerintah juga mendorong agar proses hilirisasi tidak hanya memberikan keuntungan kepada pelaku industri pengolahan. Petani harus ditempatkan sebagai bagian dari rantai nilai dan ikut menikmati peningkatan nilai ekonomi produk aren.
Baca Juga:Ketika Sekolah Tak Lagi Aman, Anggota DPR RI Ahmad Doli Kurnia Soroti Kasus Perundungan yang Memakan KorbanMusyawarah KADIN Kabupaten Tasikmalaya Bakal Diulang, Dijadwalkan 21 Oktober 2026
“Petani jangan hanya menjadi pemasok bahan baku. Mereka harus menjadi bagian dari rantai nilai dan ikut menikmati nilai tambah dari pengembangan aren,” tegasnya.
Roni mengakui pengembangan industri pengolahan aren, terlebih jika diarahkan hingga bioetanol, membutuhkan investasi yang tidak kecil. Karena itu, peluang kerja sama dengan investor tetap terbuka.
Namun, masuknya investasi harus disertai sistem rantai pasok, pengawasan dan evaluasi yang jelas. Pemerintah juga perlu memastikan keberlanjutan tanaman, kestabilan produksi, harga di tingkat petani serta dampak lingkungan menjadi bagian dari pengembangan industri.
Pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa akan memantau perkembangan produksi dan kesejahteraan petani sebagai bagian dari evaluasi ekosistem aren.
Menurut Roni, pembangunan industri tidak boleh hanya mengejar kapasitas produksi, tetapi harus menghasilkan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat di sentra aren.
“Kami sebagai pelayan publik harus memastikan pengembangan ini kembali memberi manfaat kepada masyarakat, khususnya petani dan penyadap nira,” katanya.
Roni menyebut, investasi boleh masuk dan industri boleh berkembang, tetapi masyarakat yang selama ini menjaga tanaman serta menghasilkan bahan bakunya harus ikut mendapatkan manfaat.
Baca Juga:Lahan Perjuangan Jadi Simbol Harapan, OTL SPP Cineam Tasikmalaya Gelar SyukuranMusim Kemarau Panjang, OTL SPP Cineam Tasikmalaya Gelar Shalat Istisqa Bersama Para Petani
Dengan potensi sekitar 166,73 hektare dan produksi sekitar 392,59 ton, Cigalontang memiliki modal awal untuk mengembangkan aren secara lebih terintegrasi.
Pendataan yang tengah dilakukan menjadi pijakan untuk menentukan arah pengembangan berikutnya, mulai dari pola budidaya, penguatan kelembagaan, pengembangan produk turunan hingga peluang pemanfaatan aren sebagai bahan baku bioetanol.
