RADARTASIK.ID – Dua hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 27 September 2026, Francesco Totti genap berusia 50 tahun.
Di momen istimewa tersebut, legenda sekaligus mantan kapten AS Roma itu membuka kembali lembaran panjang perjalanan kariernya, termasuk satu gol yang paling membekas dalam ingatannya.
Dalam wawancara panjang bersama Corriere dello Sport, Totti mengenang sejumlah momen paling penting dalam kariernya, dari debut di Serie A hingga hari ketika akhirnya harus meninggalkan lapangan untuk selamanya.
Baca Juga:Rating Esposito Bersaudara usai Bawa Italia Bantai Turki 4-1Italia Hajar Turki 4-1, Sabatini: Kami Seperti Tim Juara Piala Dunia
Totti menjalani debut Serie A pada 28 Maret 1993 ketika Roma menghadapi Brescia.
Lebih dari tiga dekade kemudian, kenangan tersebut masih menjadi salah satu momen paling berharga dalam hidupnya.
Bagi Totti, tidak ada momen yang lebih indah dalam sepak bola selain ketika pertama kali mewujudkan impian yang sejak kecil terus dibayangkan.
“Momen sepak bola paling indah adalah 28 Maret 33 tahun lalu. Karena debut adalah sesuatu yang selalu menjadi impian semua anak, semua pemain muda,” kata Totti.
“Saya beruntung bisa mewujudkannya dan kemudian melanjutkannya,” lanjutnya.
Namun, ketika ditanya mengenai momen paling buruk dalam kariernya, Totti tidak memilih salah satu dari sekian banyak cedera yang pernah dialaminya.
Jawabannya justru lebih sederhana sekaligus emosional, yakni saat memutuskan gantung sepatu.
“Jika mengesampingkan cedera yang memang menjadi bagian dari perjalanan, momen terburuk adalah hari ketika saya berhenti. Ketika saya mengakhirinya untuk selamanya,” ungkapnya.
Baca Juga:Daftar 20 Pemain Italia dengan Gaji Tertinggi: Verratti Dibayar Rp600 Miliar, Dimarco Masuk 10 BesarEranio Sarankan Amorim Sederhanakan Peran Luka Modric: Dia Tak Cocok Bermain dengan Dua Gelandang
Ia menceritakan bagaimana selama bertahun-tahun, kehidupan seorang pesepak bola dibangun dari rutinitas yang sama. Latihan, pertandingan, perjalanan, pemulihan, kemudian kembali berlatih.
Ketika semua itu tiba-tiba berhenti, muncul ruang kosong yang tidak mudah diisi.
“Ketika Anda terbiasa dengan hal-hal tertentu dan menyadari bahwa Anda tidak akan bisa mengulanginya lagi, Anda harus menghadapi kekosongan. Dan Anda harus mengisinya dengan banyak hal lain,” tutur Totti.
Ia bahkan mengakui sempat merasa takut menghadapi kehidupan setelah sepak bola.
“Ketika Anda membalik halaman, Anda belum tahu apa yang akan Anda temukan,” ujarnya.
