Selama kariernya, Totti mencetak 307 gol. Banyak di antaranya lahir dalam pertandingan besar, termasuk ketika menghadapi rival sekota Lazio.
Namun, ketika diminta memilih gol terbaik, Totti justru tidak memilih gol dalam Derby della Capitale.
Ia juga menyingkirkan gol-gol yang dicetaknya di Genoa dan Milan.
Pilihan Totti adalah sebuah gol ke gawang Udinese di Stadion Olimpico.
Baca Juga:Rating Esposito Bersaudara usai Bawa Italia Bantai Turki 4-1Italia Hajar Turki 4-1, Sabatini: Kami Seperti Tim Juara Piala Dunia
“Bagi saya, salah satu yang terindah, jika tidak menghitung gol-gol di Genoa, Milan, dan derby, adalah gol yang saya cetak melawan Udinese di Olimpico,” kata Totti.
Dalam pertandingan tersebut, Totti mencetak dua gol dan salah satunya memiliki proses yang membuatnya terus mengingat momen tersebut.
Batistuta lebih dulu memberikan umpan dengan sentuhan cungkil. Totti kemudian menerima bola dengan kepalanya, membelakangi gawang yang dikawal Morgan De Sanctis.
Dalam posisi sulit, ia mengontrol bola sebelum melepaskan tendangan voli ke arah tiang jauh.
“Batistuta melakukan semacam cungkilan. Saya kemudian menyundul bola—saya tidak ingat apakah Bertotto yang menjaga saya—mengontrolnya dengan membelakangi gawang, lalu melepaskan tendangan voli ke sudut atas di tiang jauh,” kenang Totti.
Sebuah gol yang lahir dari improvisasi, kontrol, dan keberanian.
Di balik sosok Totti yang begitu besar di dunia sepak bola, ada peran sang ayah, Enzo Totti, yang meninggal dunia pada Oktober 2020.
Menariknya, Enzo bukan tipe ayah yang mudah memberikan pujian kepada putranya.
Baca Juga:Daftar 20 Pemain Italia dengan Gaji Tertinggi: Verratti Dibayar Rp600 Miliar, Dimarco Masuk 10 BesarEranio Sarankan Amorim Sederhanakan Peran Luka Modric: Dia Tak Cocok Bermain dengan Dua Gelandang
Bahkan ketika Totti mencetak dua gol, sang ayah masih bisa mengatakan bahwa ia seharusnya mencetak tiga.
“Ketika Anda memiliki seorang ayah yang mengajarkan nilai-nilai dan pendidikan, itu sudah sangat berarti. Itu segalanya,” kata Totti.
“Tetapi ayah saya memang sosok yang khusus dalam banyak hal. Selama 30 atau 35 tahun, sejak saya memulai sangat muda, tidak pernah sekalipun memberikan pujian,” ucapnya.
Totti bahkan pernah berharap ayahnya mengatakan sesuatu sederhana setelah ia bermain bagus.
“Saya bermimpi dia mengatakan, ‘Wah, hari ini kamu benar-benar bermain bagus.’ Tetapi jika saya mencetak dua gol, dia justru mengatakan saya payah karena seharusnya mencetak tiga,” bebernya.
