Sekda Bilang Sederhana, Wali Kota Bilang Beragam!

Hutkota tasikmalaya
Gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

Viman mengatakan momentum Hari Jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Warga mendapatkan akses kesehatan, sementara UMKM dan pelaku ekonomi kreatif memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk.

Batik. Kelom geulis. Payung geulis. Anyaman. Dan produk kreatif lainnya. Semua ingin dibawa masuk ke dalam satu keranjang bernama Hari Jadi.

Keranjang itu tentu tidak boleh terlalu berat. Sebab kalau terlalu berat, anggaran yang mengangkat. Kalau terlalu ringan, manfaatnya yang tidak terasa.

Baca Juga:Politik Senyum Arief Arseha!Jalan Panjang Nurul Awalin!

Di sinilah seni membuat acara pemerintah sebenarnya. Bukan membuat acara sebanyak-banyaknya. Tetapi membuat acara yang setelah selesai masih meninggalkan sesuatu.

Seorang warga pulang membawa hasil pemeriksaan kesehatan. Pedagang UMKM pulang membawa pelanggan. Produk lokal pulang membawa pasar baru. Pemerintah pulang membawa pertanyaan: Apakah uang yang dikeluarkan benar-benar kembali menjadi manfaat publik?

Kalau jawabannya iya, perayaan sederhana pun bisa menjadi perayaan besar. Sebaliknya, kalau jawabannya tidak, panggung sebesar apa pun hanya menghasilkan foto.

Dan Kota Tasikmalaya sebenarnya sudah memberi contoh kecil. Sayembara logo Hari Jadi ke-25 juga digelar. Artinya, identitas ulang tahun kota tidak harus selalu dibeli dari luar. Warga diberi ruang untuk ikut membuat wajah kota.

Itu juga bentuk efisiensi. Sekaligus partisipasi. Maka tidak perlu bingung melihat dua wajah Hari Jadi tahun ini.

Wajah pertama berkata: “Kita sedang menghemat.”. Wajah kedua berkata: “Tetapi kita tetap harus memberi manfaat.”

Keduanya tidak harus bertengkar.

Yang justru perlu dijaga adalah jangan sampai Hari Jadi menjadi pesta untuk pemerintah, tetapi tidak terasa sebagai ulang tahun bagi warga.

Baca Juga:Soal Guru Terseret Kasus Unsoed, Kepala Sekolah Sebut Tak Ada Penggeledahan, WY Berstatus SaksiDosen Unsil Kembangkan Metode Menulis Bahasa Inggris untuk Siswa Sekolah Dasar di SDN 01 Purbaratu

Kota ini sudah 25 tahun. Sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa ulang tahun bukan soal seberapa keras musiknya. Bukan soal berapa banyak panggungnya. Bukan soal berapa banyak pejabat yang hadir.

Ulang tahun kota adalah soal apakah warga merasa kota ini bertambah usia dan bertambah manfaat. Kalau warga bisa cek kesehatan gratis, UMKM bisa berjualan, produk lokal bisa dikenal, dan anggaran tetap terkendali— mungkin itulah bentuk pesta yang paling sesuai dengan usia 25 tahun.

0 Komentar