Melalui metode tersebut, benih padi ditanam menggunakan drum sider sehingga populasi tanaman dalam satu hektare dibuat lebih padat. Kebutuhan benih yang sebelumnya sekitar 35 kilogram per hektare, kini meningkat menjadi sekitar 80 kilogram.
“Memang yang dibutuhkan itu populasi yang padat. Kalau dulu yang dibutuhkan pertumbuhan anakan, sekarang karena populasinya padat, diharapkan produksinya lebih tinggi,” jelasnya.
Dari sisi waktu tanam, metode tersebut tidak jauh berbeda dengan pola penanaman padi biasa. Begitu pula dengan pola pengairan dan budidayanya. Perbedaannya lebih terletak pada pola tanam, jumlah benih serta kebutuhan pupuk.
Baca Juga:Setoran Tidak Sesuai Target, Vendor Parkir di Kota Tasikmalaya Nunggak RetribusiAPBD Kota Tasik: Kebanyakan Lemak!
Untuk pupuk urea, misalnya, kebutuhannya meningkat dari sekitar 250 kilogram menjadi 300 kilogram per hektare. Sedangkan NPK dari 300 kilogram menjadi sekitar 400 kilogram per hektare.
Dengan metode tersebut, produktivitas padi diharapkan dapat meningkat signifikan. Jika produksi sebelumnya berada di kisaran 6-7 ton per hektare, penerapan metode PM AAS ditargetkan mampu mendongkraknya hingga 10 ton per hektare.
“Di Kota Tasik masih tahap awal tanam. Tapi kalau mengikuti metode yang dilakukan Kementerian, minimal bisa menghasilkan 10 ton per hektare. Jargonnya dari Kementan, salam 10 ton,” katanya.
Namun, penerapan metode tersebut tetap mempertimbangkan kondisi lahan, terutama ketersediaan air. Sebab, tanaman padi pada fase awal membutuhkan pasokan air yang cukup. Karena itu, lahan yang dipilih untuk program PM AAS dipastikan memiliki sumber air yang relatif tersedia. Sistem tersebut tidak dimaksudkan untuk mengubah pola pengairan maupun pola tanam secara keseluruhan.
Dari sisi pengendalian hama, benih telah melalui proses perendaman menggunakan pestisida. Sebelum penanaman juga dilakukan penyemprotan pestisida pra-tumbuh untuk menekan potensi gangguan organisme pengganggu tanaman. Program tersebut diharapkan menjadi salah satu upaya meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mengenalkan pola pertanian yang lebih modern kepada petani di Kota Tasikmalaya.(Firgiawan)
