Ia mengakui videotron itu merupakan milik pihak swasta, meski status pengelolaannya masih akan dipastikan kembali.
Meski demikian, menurutnya persoalan utama bukan semata-mata kondisi lokasi.
“Kalau saya lihat, bukan karena tempatnya gelap. Pelakunya saja yang memang sudah tidak punya moral dan etika. Warga juga sebenarnya sering menegur dan mengusir mereka,” jelasnya.
Peristiwa ini kembali menjadi alarm bahwa ruang publik membutuhkan pengawasan lebih serius. Jalan protokol yang semestinya menjadi wajah kota jangan sampai justru identik dengan perilaku yang mencoreng ketertiban dan norma masyarakat. (Rezza Rizaldi)
