“Ini masih dalam penelitian kita (penyebab keracunan). Mudah-mudahan tidak menyebabkan situasi yang buruk. Tapi sejauh ini dapat tertangani oleh tim dari Puskesmas Cibatu,” katanya.
Nurdin Yana menjelaskan, para pelajar yang mengalami keracunan didominasi pelajar SMP dan santri dari pondok pesantren. Namun, ada juga bocah SD yang ikut keracunan.
Pihaknya sudah melakukan berbagai upaya penanganan seperti menyiapkan tenaga medis dan juga tambahan bed.
Baca Juga:Penerangan Jalan Umum Mati, Jalur RTA Prawira Adiningrat Tasikmalaya Dinilai Rawan KecelakaanSiap-Siap! Bakal Ada Mudik Gratis di Garut, Segini Kuota yang Tersedia
“Kita sudah lakukan langkah-langkah penanggulangan. Selain tenaga medis dan dokter, kita juga sudah siapkan bed tambahan juga dari BPBD,” katanya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Asep Surahman mengatakan, saat ini pihaknya belum bisa memastikan penyebab keracunan. Apakah dari makanan MBG atau dari jajanan yang lain.
Pihaknya pun sudah mengambil sampel untuk diuji di labolatorium. “Kita belum bisa memastikan apakah dari makanan itu atau dari jajanan lain,” katanya.
Asep mengatakan, Dinas Kesehatan Kabupaten Garut masih melakukan pendataan terhadap siswa dan santri yang diduga terdampak.
Selain mengamankan sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium, petugas juga menjangkau siswa yang belum datang ke fasilitas kesehatan agar dapat menjalani pemeriksaan.
“Bagi siswa yang saat ini mengalami gejala atau diduga terdampak, kami mengimbau agar segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat,” katanya.
Terkait jumlah korban, ia menyampaikan datanya masih dinamis. “Data yang kami miliki juga masih bersifat dinamis dan terus diperbarui,” pungkasnya. (Agi Sugiana)
