Pengunjung dapat membaca buku sambil menikmati suasana pagi atau beristirahat usai berolahraga.
Menurutnya, konsep tersebut menjadi alternatif aktivitas di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin lekat dengan telepon genggam.
“Sekarang masyarakat lebih banyak melihat gadget, scroll ke sana, scroll ke sini. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa menjadi penyegar. Orang bisa bergembira sambil olahraga, menikmati seni, bahkan membaca buku di ruang terbuka,” tuturnya.
Baca Juga:Kota Tasikmalaya Andalkan MTQH Bentuk Generasi BerakhlakGalunggung Fun Walk Satukan Polisi dan Warga Tasikmalaya
Acong menjelaskan kegiatan Street Art Tasikmalaya telah rutin digelar setiap Minggu pagi selama kurang lebih dua bulan terakhir.
Berbagai komunitas seni turut bergabung secara bergiliran untuk mengisi ruang publik dengan kreativitas.
Mulai dari musisi, pelukis, pegiat literasi hingga seniman lintas disiplin ikut memanfaatkan pedestrian HZ Musthofa sebagai ruang berkesenian yang terbuka bagi semua kalangan.
Hadirnya Street Art Tasikmalaya menjadi penanda bahwa denyut sebuah kota tidak hanya diukur dari ramainya transaksi ekonomi, tetapi juga dari hidupnya ruang budaya.
Ketika seni mendapat tempat di ruang publik, pedestrian tak sekadar menjadi jalur melintas, melainkan juga panggung yang menghidupkan wajah kota dengan cara yang lebih manusiawi. (rezza rizaldi)
