Pasien Gangguan Jiwa Mengantre di Kota Tasikmalaya

Pasien gangguan jiwa
Ilustrasi
0 Komentar

Karena itulah manajemen rumah sakit kembali mengajukan pembangunan bangsal perawatan jiwa kepada Kementerian Kesehatan.

Harapannya bisa terealisasi pada 2027. Permintaan itu bukan tanpa alasan. Ini bukan sekadar pembangunan gedung baru.Bukan sekadar menambah ruangan. Ini tentang kesiapan sebuah kota menghadapi masalah kesehatan yang terus berubah.

Dulu rumah sakit sibuk menambah ruang penyakit menular. Kemudian menambah ruang jantung. Lalu ruang kanker. Kini kesehatan jiwa mulai mengetuk pintu yang sama.

Baca Juga:Nilai Para Peserta Mendadak Berkurang! Penerimaan Siswa Sekolah Maung di Kota Tasikmalaya BerpolemikCitra Terjaga di Dunia Maya! Media Sosial Bupati Pangandaran Minim Kritikan

Dan ketukannya semakin keras. Dr Titie mengatakan keluarga memiliki peran penting dalam mendeteksi gejala awal. Gangguan kejiwaan sering dimulai dari perubahan perilaku yang dianggap sepele.Murung berkepanjangan.

Menarik diri dari lingkungan. Kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari. Atau muncul pikiran-pikiran negatif yang terus berulang.

Gejala itu sering dianggap hanya sedang lelah. Atau hanya sedang banyak masalah. Padahal bisa menjadi awal dari kondisi yang lebih serius.

Masalahnya, kesehatan jiwa tidak meninggalkan bekas luka yang terlihat. Tidak ada darah. Tidak ada gips. Tidak ada infus. Karena itu sering terlambat disadari.

Padahal rasa sakitnya bisa jauh lebih dalam. Mungkin inilah ironi zaman sekarang. Di tengah kemajuan teknologi. Di tengah derasnya arus informasi.

Di tengah kemudahan berkomunikasi. Semakin banyak orang yang merasa sendirian. kota Tasikmalaya ternyata tidak berbeda dengan kota-kota lain.

Antrean di poli kejiwaan menjadi alarm yang tidak berbunyi keras. Tetapi pesannya jelas. Kesehatan jiwa bukan lagi persoalan pinggiran. Ia sudah berada di ruang tunggu rumah sakit. Duduk rapi. Mengambil nomor antrean. Dan jumlahnya terus bertambah. (Firgiawan/red)

0 Komentar