CIAMIS, RADARTASIK.ID – Perajin tempe dan tahu di Kabupaten Ciamis menjerit setelah adanya lonjakan harga kedelai impor dan naiknya harga plastik. Hal tersebut dipicu oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).
Perajin Tempe Dusun Cikaret Desa Sukamulya Miya (45) mengaku bahan baku untuk membuat tempe serba mahal, seperti kedelai impor dari AS dan plastik.
“Saat ini serba mahal (bahan baku tempe, Red) seperti ini, buat rakyat menjerit,” katanya kepada Radar, Senin (18/5/2026).
Baca Juga:GTRA Plus Siap Bongkar Permasalahan Tanah di Kabupaten Tasikmalaya, Ini Kata Agustiana!!Kisruh di Desa Cayur Cikatomas Tasikmalaya, Agustiana: Lebih Baik SPP yang Disalahkan Ketimbang Ulama
Sebab, kedelai impor dari AS biasa Rp 8.000 per kilogram (/kg), sedangkan kini naik menjadi Rp 10.600/kg. Sedangkan, perajin tak berani menaikan harga jual tempe walaupun bahan bakunya sudah mahal. Di sisi lain harga tempe masih tetap Rp 2.000, paling dari volume kedelai di kurangi.
“Dinaikkan harga tempe tidak bisa, paling diakalinya ukuran di perkecil sedikit,” ujarnya.
Sedangkan, untuk pembukus tempe menggunakan plastik pun ikut naik, tadinya Rp 290.000 per ball sekarang bisa mencapai Rp 500.000 per ball. “Naik plastik dua kali lipat,” katanya.
Di tambah daya beli masyarakat untuk tempe pun kurang. “Sehingga saya pun terpaksa menurunkan produksi tempenya,” ujarnya.
Walau pun memang ada alternatif kedelai lokal Rp 7.000/kg, akan tetapi perajin tempe lebih memilih kedelai impor dari AS. Karena kalau bicara kualitas, bagus yang impor dari pada lokal untuk buat tempe tidak tahan lama.
“Lebih baik mempertahankan kualitas daripada menurunkan kualitas tempe. Sebab bisa berpengaruh pada penjualan,” katanya.
Selain itu, dia tidak menyuplai ke makan bergizi gratis (MBG) di sekitar desanya. Karena harganya ditawar lebih murah dari pada menjual ke pasar.
Baca Juga:Tingkatkan Kapasitas Instruktur Senam, Bidang Olahraga Disparpora Kabupaten Tasikmalaya Gelar PelatihanSerap Aspirasi Warga Tasikmalaya, Anggota DPRD Jabar Budi Mahmud Saputra Siap Kawal Pembangunan Desa
“Saya tidak masuk untuk MBG karena mintanya harga murah Rp 1.000 per tempe. Di sisi lain, harga bahan bakunya mahal,” ujarnya.
Ia pun berharap ke pemerintah supaya harga kedelai impor dari AS dan plastik cepat turun. Dengan begitu, tidak membebani perajin tempe yang bahan bakunya mahal.
Perajin Tahu Dusun Cibodas Nana Carmana (53) menyampaikan produksi tahu bukan tanpa tantangan. Terutama soal bahan baku kedelai.
