TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Rencana event lari skala nasional di Kampus II Universitas Siliwangi (Unsil) Tamansari, Kota Tasikmalaya, Minggu (10/5/2026), justru menuai keluhan dari warga terdampak.
Masyarakat Kelurahan Mugarsari, Kecamatan Tamansari, menyoroti minimnya sosialisasi dari panitia, seolah hajatan besar ini berjalan tanpa “kulonuwun” ke tuan rumahnya sendiri.
Perwakilan Forum RW Mugarsari, Herdis, mengungkapkan warga pertama kali mengetahui agenda tersebut bukan dari panitia, melainkan dari media sosial. Kondisi ini memaksa warga bergerak sendiri mencari kepastian informasi.
Baca Juga:Dua Mahasiswa UMB Jadi Google Student Ambassador 2026, Dorong Literasi AI di KampusBus Ngulisik Jadi Kelas Investasi, Unsil Dorong Mahasiswa Baca Aset Nyata Tasikmalaya
“Harusnya panitia datang ke RW, ke karang taruna. Ada etika sosial yang perlu dijaga. Ini malah warga yang jemput bola,” ujarnya kepada Radar, Rabu (6/5/2026).
Menurut Herdis, pelaksanaan lomba akan menggunakan akses jalan lingkungan warga sejak pukul 05.45 hingga sekitar pukul 10.00 WIB.
Dampaknya, aktivitas keluar-masuk warga dipastikan terganggu. Ia menilai ada perbedaan antara laporan administratif dengan potensi kondisi riil di lapangan.
“Disebut tidak ditutup total, tapi kalau ini race, bukan sekadar fun run, track pasti harus steril. Artinya dampaknya ke warga tidak bisa dianggap kecil,” katanya.
Kekhawatiran warga bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga akses terhadap layanan vital. Herdis mencontohkan keberadaan fasilitas kesehatan di sekitar kampus yang berpotensi terdampak.
“Di dekat kampus ada puskesmas. Kalau akses terhambat, ini bukan lagi soal olahraga, tapi soal keselamatan,” tegasnya.
Selain itu, warga juga menilai pendekatan sosial panitia masih jauh dari harapan. Dalam kultur masyarakat, setiap kegiatan besar yang bersinggungan langsung dengan lingkungan semestinya diawali komunikasi yang layak.
Baca Juga:Korban Penyiraman Air Keras di Tasikmalaya Terancam Mengalami KebutaanWarga Cibeureum Tasikmalaya Geger, Jenazah Lansia Ditemukan Duduk di Sebuah Rumah
“Kalau kita punya hajat saja izin ke tetangga. Ini acara besar, tapi terkesan jalan dulu, urusan warga belakangan,” sindirnya.
Pengalaman tahun sebelumnya pun menjadi catatan. Saat itu, sempat terjadi gesekan antara warga dan peserta lomba karena penggunaan jalan yang sama. Insiden tersebut kini menjadi alarm bahwa perencanaan belum sepenuhnya matang.
“Dulu ada warga dimarahi karena lewat jalan yang sama. Itu pelajaran penting. Jangan sampai terulang,” ucapnya.
