Sementara itu, Ketua PSSI Kota Tasikmalaya, H Wahid, memaparkan antusiasme peserta cukup tinggi.
Untuk kelompok usia 10 tahun diikuti 13 klub, usia 12 sebanyak 24 klub, usia 14 ada 12 klub, dan usia 19 diikuti 6 klub.
“Untuk Sabtu dan Minggu ini fokus di U-10 dan U-12. Lapangan yang digunakan pun disesuaikan, masih ukuran kecil. Nanti U-14 dan U-19 baru pakai lapangan normal,” tuturnya.
Baca Juga:Aksi Diam Hari Buruh di Kota Tasikmalaya, Simbol Suara yang Tak DidengarMuscab Pemuda Batak Bersatu Kota Tasikmalaya Tanpa Voting, Feri Saragih Terpilih Aklamasi
Dari kompetisi tingkat kota, lima tim terbaik di tiap kelompok usia U-10 dan U-12 akan melaju ke babak regional Priangan Timur.
Selanjutnya, enam tim terbaik dari regional akan bertarung di tingkat Jawa Barat.
“Jadi bukan hanya juara satu yang lolos. Lima besar kita kirim semua. Ini bagian dari memperluas jam terbang dan pengalaman tanding anak-anak,” tambahnya.
Wahid menekankan, pembinaan sepak bola tidak bisa instan. Ia melihat olahraga menjadi salah satu cara efektif mengalihkan anak-anak dari potensi kenakalan remaja.
“Minimal mereka punya aktivitas positif. Olahraga, sehat, dan punya mimpi. Itu sudah jadi kemenangan awal,” jelasnya.
Meski begitu, ia tak menampik keterbatasan fasilitas di Kota Tasikmalaya.
Janji revitalisasi stadion hingga program pembangunan lapangan di tiap kecamatan masih belum terlihat realisasinya dalam anggaran 2026.
“Mudah-mudahan bukan sekadar wacana. Jangan sampai berhenti di omon-omon,” ucapnya dengan nada satir.
Baca Juga:Penjual Rokok Ilegal Diperas Rp60 Juta, Petugas Bea Cukai Gadungan dan Wartawan Diciduk di TasikmalayaSuspek Campak di Kota Tasikmalaya Melonjak, Kematian Balita 5 Bulan Warga Cihideung Masih Misteri Medis
Di tengah geliat pembinaan usia dini yang mulai dirajut serius, satu hal menjadi catatan: mimpi besar sepak bola Tasikmalaya tak cukup hanya ditopang semangat—ia butuh lapangan yang layak, kebijakan yang konsisten, dan komitmen yang tak sekadar menggema saat seremoni. (rezza rizaldi)
