AC Milan Semakin Dijauhi Penggemar Setianya, Momen Maldini Turunkan Harga Tiket Kembali Diungkit

ultras AC Milan
Ilustrasi ultras AC Milan Foto: Tangkapan layar Instagram
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Hubungan antara AC Milan dan para pendukung setianya kembali menjadi sorotan.

Laporan media Italia menyebutkan bahwa pertandingan panas kontra Juventus baru-baru ini justru memperlihatkan jurang yang semakin lebar antara klub dan fans.

Di tengah performa tim yang sebenarnya cukup stabil di bawah arahan Massimiliano Allegri, ketidakpuasan terhadap manajemen dan kepemilikan klub ternyata tidak ikut mereda.

Baca Juga:Atalanta Tumbang, AC Milan Dipastikan Tampil di Kompetisi EropaMedia Italia: Inter Milan Tak Terlibat dalam Kasus Wasit Rocchi

Bagi sebagian besar suporter, hasil di lapangan tidak cukup untuk menutupi kekecewaan yang telah menumpuk, terutama terkait kebijakan klub di luar aspek teknis.

Fenomena ini diibaratkan seperti retakan yang perlahan membelah, bukan sesuatu yang terjadi sekali lalu hilang, melainkan terus muncul dalam interval yang semakin pendek.

Ketegangan tersebut bahkan terasa dalam momen spesial, seperti ketika legenda Ruud Gullit resmi masuk Hall of Fame klub.

Dalam seremoni itu, tidak tampak kehadiran petinggi klub di pinggir lapangan untuk memberikan penghormatan langsung, sebuah detail kecil yang dinilai mencerminkan jarak emosional antara manajemen dan identitas klub itu sendiri.

Isu yang paling menyulut kemarahan publik adalah melonjaknya harga tiket pertandingan.

Untuk laga melawan Juventus, harga tiket di sektor Curva—yang biasanya menjadi area paling “ramah” bagi fans garis keras—dilaporkan mencapai €139, sekitar Rp2,36 juta.

Angka tersebut kemudian diprotes secara kreatif oleh kelompok suporter yang mengangkat ponsel dengan tampilan harga tersebut sebagai bentuk kritik.

Baca Juga:Marcus Rashford Memilih Potong Gaji daripada Pulang ke Manchester UnitedSandro Sabatini: AC Milan dan Juventus Wajib Beli Pemain Bintang untuk Dekati Level Inter

Aksi ini memang tidak banyak disorot dalam siaran televisi, namun gaungnya terasa kuat di kalangan pendukung.

Banyak yang menilai bahwa kebijakan harga tiket telah melampaui batas kewajaran dan berpotensi menggerus identitas stadion sebagai rumah bagi fans sejati.

Fenomena ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Milan. Di Inggris, pendukung Liverpool juga sempat melancarkan protes keras terhadap pemilik klub karena kenaikan harga tiket.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan komersialisasi sepak bola kini menjadi isu global.

Pihak klub mungkin merasa aman karena stadion San Siro kerap terlihat penuh.

Namun, realitas di balik angka tersebut tidak sesederhana itu. Banyak kursi diisi oleh sponsor, pemegang tiket musiman, atau turis yang membeli melalui agen dengan harga tinggi.

0 Komentar