Sementara itu, Christian Recalcati memberikan penilaian lebih tegas. Ia menyebut Chivu telah melakukan pekerjaan yang lebih baik dibanding para pendahulunya.
Alasannya cukup jelas: Chivu datang saat Inter berada dalam kondisi mental yang terpuruk dan berhasil membalikkan situasi tersebut secara drastis.
Bahkan, ia menilai keberhasilan itu diraih tanpa dukungan transfer pemain besar, melainkan dengan memaksimalkan potensi skuad yang ada.
Baca Juga:Bangkitkan Marwah Los Galacticos, Madrid Ingin Boyong Victor OsimhenChelsea dalam Bencana Usai Ditinggal Abramovich: Habiskan Dana Rp28,9 Triliun Tanpa Satu Gelar Pun
“Ya, dia melakukan pekerjaan lebih baik dari mereka. Chivu datang saat tim dalam kondisi sulit dan berhasil mengubah segalanya,” Recalcati.
Angiolo Radice turut menyoroti perbandingan dengan Conte dan Inzaghi.
Ia menilai Chivu mungkin sudah melampaui Conte di musim pertama, tetapi untuk Inzaghi, penilaian masih harus ditunda mengingat perjalanan panjang yang telah dilalui pelatih tersebut bersama Inter.
Radice juga menekankan bahwa Chivu mengambil alih tim dalam kondisi psikologis yang sulit—faktor yang membuat keberhasilannya semakin layak diapresiasi.
Pendapat menarik lainnya datang dari Andrea Zenga. Ia menilai sebagian besar keberhasilan Chivu ditentukan di awal masa jabatannya, ketika ia mampu membangun kembali kepercayaan diri tim.
Menurutnya, kemampuan membangun hubungan dengan pemain menjadi kunci utama kebangkitan Inter musim ini.
“Di musim pertama, dia tampil lebih baik dari dua pelatih itu, meski Inzaghi juga menangani situasi yang tidak mudah saat awal,” tutup Zenga.
