RADARTASIK.ID – Apa yang terjadi di Chelsea dalam beberapa musim terakhir bisa disebut sebagai salah satu kisah paling mencolok tentang kegagalan manajerial di sepak bola modern.
Dengan total belanja mencapai €1,7 miliar—setara sekitar Rp28,9 triliun (kurs €1 = Rp17.000)—klub asal London itu justru belum mampu mempersembahkan satu pun gelar bergengsi.
Sejak kepergian Roman Abramovich, yang harus melepas kepemilikan klub akibat situasi geopolitik pasca invasi Rusia ke Ukraina, Chelsea memasuki era baru di bawah kendali Todd Boehly dan konsorsium BlueCo.
Baca Juga:Daftar 4 Pemain Bintang Bebas Transfer yang Jadi Buruan AC Milan dan JuventusManchester City Rebut Puncak Klasemen, Arsenal Dihantui Kutukan Spesialis Runner Up
Namun alih-alih membawa stabilitas, era baru ini justru diwarnai keputusan yang membingungkan dan inkonsistensi kebijakan.
Dalam kurun lima musim, Chelsea menggelontorkan dana luar biasa besar di bursa transfer tanpa hasil yang signifikan.
Bahkan untuk musim depan, mereka sudah mengalokasikan sekitar €70 juta (sekitar Rp1,19 triliun).
Ironisnya, investasi fantastis tersebut belum sebanding dengan prestasi di lapangan.
Trofi seperti Piala Dunia Antarklub dalam format baru memang sempat diraih, tetapi tetap dianggap belum cukup untuk membenarkan skala pengeluaran tersebut.
Situasi ini bahkan membuat Manchester United—yang kerap dikritik sejak era pasca Alex Ferguson—terlihat lebih stabil jika dibandingkan The Blues.
Jika sebelumnya Setan Merah dianggap sebagai simbol klub besar yang kehilangan arah, kini Chelsea justru mengambil alih “predikat” tersebut.
Kekacauan di Stamford Bridge tidak hanya terjadi di level transfer, tetapi juga di kursi pelatih.
Baca Juga:Bursa Transfer Serie A: AS Roma Incar Victor Munoz, Inter Siap Korbankan Andy Diouf Demi EdersonAC Milan Kepincut Tiago Gabriel, Lecce Pasang Tarif Selangit
Nama-nama seperti Thomas Tuchel, Graham Potter, Frank Lampard, hingga Mauricio Pochettino silih berganti datang dan pergi tanpa sempat membangun fondasi yang kokoh.
Terbaru, Chelsea kembali membuat keputusan mengejutkan dengan memecat Liam Rosenior setelah rentetan hasil buruk.
Ia sebelumnya didatangkan untuk menggantikan Enzo Maresca, yang justru kini disebut-sebut sebagai calon penerus Pep Guardiola di Manchester City.
Masalah utama tampaknya bukan terletak pada pelatih, melainkan pada struktur manajemen itu sendiri.
Kendali klub kini berada di tangan tokoh-tokoh seperti Behdad Eghbali, José E. Feliciano, serta direktur olahraga Paul Winstanley dan Laurence Stewart.
