Chelsea dalam Bencana Usai Ditinggal Abramovich: Habiskan Dana Rp28,9 Triliun Tanpa Satu Gelar Pun

Chelsea
Ilustrasi logo Chelsea Foto: Tangkapan layar Instagram
0 Komentar

Di bawah kepemimpinan mereka, kebijakan transfer terlihat seperti tanpa arah yang jelas.

Daftar belanja Chelsea pun mencengangkan. Moises Caicedo didatangkan dengan harga €116 juta (sekitar Rp1,97 triliun), Romeo Lavia €62 juta (Rp1,05 triliun), Axel Disasi €45 juta (Rp765 miliar), hingga Kiernan Dewsbury-Hall €35 juta (Rp595 miliar).

Belum lagi sederet pemain muda lain yang juga menelan biaya puluhan juta euro.

Baca Juga:Daftar 4 Pemain Bintang Bebas Transfer yang Jadi Buruan AC Milan dan JuventusManchester City Rebut Puncak Klasemen, Arsenal Dihantui Kutukan Spesialis Runner Up

Totalnya seperti permainan video: belanja besar tanpa perhitungan matang seperti pepatah lama “roti berlimpah untuk mereka yang tak punya gigi.”

Chelsea memiliki sumber daya besar, tetapi belum mampu memanfaatkannya secara efektif.

Untuk musim depan, klub ini bahkan sudah menghabiskan €63 juta (sekitar Rp1,07 triliun) untuk nama-nama seperti Geovany Quenda dan prospek muda lainnya.

Strategi kontrak jangka panjang hingga 7-8 tahun digunakan untuk menyebar beban biaya demi menyesuaikan aturan Financial Fair Play.

Namun, pendekatan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru: apakah ini strategi jenius atau sekadar cara menunda masalah?

Di tengah ambisi besar sepak bola Inggris sebagai tolok ukur dunia, kondisi Chelsea—bersama Manchester United—justru memperlihatkan sisi lain: bahwa uang besar tidak selalu berbanding lurus dengan kesuksesan.

Jika situasi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Chelsea akan dikenang sebagai salah satu proyek paling mahal namun paling gagal dalam sejarah sepak bola modern.

0 Komentar