Angka Anak Tidak Sekolah di Kabupaten Tasikmalaya Masih Tinggi Meski Trennya Menurun

Angka Anak Tidak Sekolah di Kabupaten Tasikmalaya
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Aang Munawar. (Istimewa for Radartasik.id) 
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Angka Anak Tidak Sekolah di Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan tren penurunan dalam beberapa bulan terakhir.

Berdasarkan data terbaru hingga April 2026 dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tasikmalaya, jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) tercatat sekitar 28 ribu orang, turun dari sekitar 29 ribu orang pada Oktober 2025.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Aang Munawar, menyampaikan, meskipun terjadi penurunan, persoalan ATS masih menjadi tantangan serius yang harus ditangani secara berkelanjutan.

Baca Juga:5 Tips Memilih AC 1/2 PK Low Watt Terbaik untuk Kamar Tidur yang Hemat Listrik dan SehatUsung Inovasi dan Penguatan PK dan OKP, Burhanudin Muslim Siap Majukan KNPI Kabupaten Tasikmalaya

Ia mengungkapkan, terkait angka Anak Tidak Sekolah di Kabupaten Tasikmalaya juga telah dibahas dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) bersama Disdikbud.

“Masalah ATS ini masih sangat kompleks. Tidak hanya soal anak putus sekolah, tetapi juga ada yang belum pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Karena itu, perlu dilakukan pendataan ulang secara lebih formal dan akurat agar penanganannya tepat sasaran,” ujarnya.

Aang menjelaskan, tingginya angka ATS di Kabupaten Tasikmalaya dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya kondisi ekonomi keluarga serta kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan.

Menurutnya, banyak anak yang terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan biaya maupun tuntutan membantu perekonomian keluarga.

Sebagai upaya penanganan, DPRD mendorong agar anak-anak yang sudah terdata dalam sistem pendidikan dapat diakomodasi dalam program bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Selain itu, pendekatan sosial juga dinilai penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

“Kami menyarankan agar pihak sekolah, termasuk komite, lebih aktif melakukan pendekatan dan edukasi kepada masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan dengan tingkat pendapatan relatif rendah,” katanya.

Baca Juga:Andin Muhibin Menguat dalam Bursa Ketua DPD KNPI Kabupaten Tasikmalaya, Tagline “Pemuda Bahagia” Jadi MagnetImbas Dugaan Pencemaran, RPH Ciawi Kabupaten Tasikmalaya Dihentikan Sementara, Distribusi Daging Terdampak

Ia juga menambahkan, pemerintah daerah tengah merancang sejumlah program untuk memperluas akses pendidikan, termasuk rencana penguatan bantuan pendidikan hingga ke jenjang pendidikan anak usia dini.

Berdasarkan data, penyumbang terbesar dalam angka ATS berasal dari kelompok Belum Pernah Bersekolah (BPB) dengan rentang usia cukup luas, yakni 25 hingga 65 tahun. Jumlahnya saat ini mencapai lebih dari 20 ribu orang.

Sementara itu, untuk kategori anak putus sekolah usia 7 hingga 19 tahun, jumlahnya berada di kisaran 4.400 orang.

Kondisi ini menunjukkan, persoalan ATS tidak hanya terjadi pada usia sekolah, tetapi juga melibatkan kelompok usia dewasa yang belum pernah mengakses pendidikan formal.

0 Komentar