TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Dinamika pemilihan Ketua DPD KNPI Kabupaten Tasikmalaya kian mengerucut dengan munculnya sejumlah kandidat potensial. Di antaranya, Andin Muhibin SSos menjadi salah satu figur yang dinilai paling kuat dalam kontestasi.
Anggota Majelis Pemuda Indonesia (MPI) DPD KNPI Kabupaten Tasikmalaya Yayan Siswandi mengatakan, dukungan terhadap Andin terus mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari aktivis pemuda, tokoh masyarakat, hingga elite politik daerah. Ia dipandang membawa energi baru di tengah kebutuhan organisasi kepemudaan yang lebih segar, aktif, dan relevan dengan tantangan generasi saat ini.
Menurut Yayan, dalam kontestasi yang semakin dinamis, Andin tidak hanya hadir sebagai kandidat, tetapi juga sebagai figur muda dengan rekam jejak organisasi, pengalaman sosial, serta kemampuan komunikasi lintas kelompok.
Baca Juga:Tingkatkan Kapasitas Instruktur Senam, Bidang Olahraga Disparpora Kabupaten Tasikmalaya Gelar PelatihanSerap Aspirasi Warga Tasikmalaya, Anggota DPRD Jabar Budi Mahmud Saputra Siap Kawal Pembangunan Desa
“Modal ini penting untuk memimpin KNPI sebagai wadah berhimpunnya berbagai elemen kepemudaan,” ujarnya, menjelaskan.
Sejumlah pihak menilai KNPI Kabupaten Tasikmalaya membutuhkan pemimpin yang tidak sekadar populer, tetapi juga memahami persoalan riil pemuda. Mulai dari isu lapangan kerja, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga ruang partisipasi dalam pembangunan daerah.
“Dalam konteks tersebut, Andin dinilai mampu menjawab kebutuhan itu,” tegasnya.
Kata Yayan, Andin aktif dalam kegiatan kepemudaan sejak tingkat kecamatan, memiliki pengalaman organisasi yang panjang, serta mampu menjaga relasi dengan berbagai kalangan. Kedekatannya dengan masyarakat akar rumput turut menjadi faktor yang memperkuat posisinya.
Yayan juga menilai figur seperti Andin berpotensi menjadi penghubung antara aspirasi pemuda dan kepentingan pembangunan daerah.
“KNPI ke depan dinilai membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh unsur, tidak sekadar simbolik,” bebernya.
Selain pengalaman, Andin membangun narasi politik melalui tagline “Pemuda Bahagia, Pilih Nomor 2” yang mulai dikenal di berbagai ruang diskusi pemuda. “Pemuda Bahagia” dimaknai sebagai kondisi ketika generasi muda memiliki peluang kerja, akses pengembangan diri, ruang berkreasi, dan keterlibatan nyata dalam arah pembangunan daerah.
“Narasi tersebut dinilai sebagian elite politik sebagai sinyal bahwa gerakan kepemudaan tidak lagi cukup dengan slogan seremonial, tetapi harus menyentuh kebutuhan konkret generasi muda,” ucapnya.
