Akibatnya, Milan perlahan terbiasa dengan kegagalan, bahkan tidak lagi merasa dekat dengan trofi.
Distaso menyebut kondisi ini sebagai bentuk “mediokritas yang terkonfirmasi”.
Jika sebelumnya publik masih bisa memahami proyek bertahap, kini performa biasa-biasa saja justru dianggap sebagai hal normal.
Baca Juga:Chivu Sindir Media Italia: Mereka Bilang Saya Pelatih Tidak Berpengalaman dan Akan DipecatDiincar Juventus, Rudiger Pilih Potong Gaji Demi Bertahan di Real Madrid
Selama laporan keuangan tetap sehat, prestasi di lapangan seolah menjadi urusan sekunder.
Padahal, secara historis, Milan adalah klub besar yang hanya terpaut satu gelar Serie A dari pencapaian dua bintang di dada.
Mereka juga masih menjadi klub kedua tersukses di Liga Champions, hanya di bawah Real Madrid.
Di akhir tulisannya, Distaso menegaskan bahwa pemilik klub memang memiliki hak penuh untuk mengambil keputusan, termasuk mengganti pelatih atau pemain.
Namun, masalah utama bukan pada besarnya investasi, melainkan pada cara pengelolaannya.
Ia menilai Milan terlalu mengandalkan pendekatan bisnis seperti algoritma dan analisis risiko, yang tidak selalu sejalan dengan kebutuhan sepak bola.
Lebih parah lagi, keputusan penting justru sering dipercayakan kepada pihak yang belum terbukti memiliki kompetensi di level tertinggi.
Baca Juga:Timnas Italia Bikin AC Milan dan Napoli Ragu dengan Masa Depan Allegri serta ConteInter Milan vs Cagliari: Chivu Pastikan Bastoni Absen
Jika situasi ini terus berlanjut, Distaso khawatir Milan akan semakin jauh dari identitas aslinya sebagai klub juara.
Sebuah warisan besar yang perlahan tergerus oleh pendekatan yang lebih mementingkan angka dibanding ambisi di lapangan.
