“Kota Tasikmalaya ini ironis. Sebagai pusat ekonomi, tapi justru masuk tiga besar daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Barat,” ungkapnya.
Menurut dia, solusi kemiskinan tidak cukup dengan bantuan sosial semata. Pola charity justru berpotensi melanggengkan ketergantungan masyarakat.
“Jangan terus diberi ikan. Harus mulai diberikan kail. Kalau tidak, ya kemiskinan akan terus berputar seperti lingkaran setan,” tegasnya.
Baca Juga:Jabar Provinsi Madrasah Tak Boleh Jadi Slogan Saja, Guru Ditantang Naik KelasPenyanyi Asal Kota Tasikmalaya Tembus Top 24 The Icon Indonesia
Ia mendorong agar kebijakan anggaran, termasuk dana hibah, lebih diarahkan pada sektor pendidikan dan penguatan keterampilan masyarakat.
Selain itu, Tantan juga mengkritik minimnya integrasi kearifan lokal dalam sistem pendidikan. Padahal, menurutnya, potensi sumber daya di Tasikmalaya sangat melimpah, mulai dari kerajinan mendong, bambu, hingga sektor pertanian.
“Anak-anak kita tahu nasi di meja, tapi tidak tahu proses menanam padi. Ini ironi pendidikan. Harus ada keberanian keluar dari pola lama, jangan business as usual,” tambahnya.
Program S4F sendiri diujicobakan di enam lembaga di Indonesia dengan total 120 peserta. Hasil evaluasi pelatihan ini akan menjadi dasar penyempurnaan modul yang rencananya akan diadopsi secara global oleh British Council.
REDEF berharap, jika program ini dinilai efektif, jumlah penerima manfaat di Kota Tasikmalaya bisa diperluas hingga ratusan peserta dalam tahun ini. (rezza rizaldi)
