Dengan tidak mencalonkan diri, Agus seperti sedang menaruh tongkat estafet di tengah lintasan. Siapa pun yang mengambilnya nanti harus siap berlari lebih cepat. Lebih jauh. Lebih kuat. Dan di sisi lain, Agus tetap berada di arena. Hanya lintasannya yang berubah.
Dari kota menuju wilayah. Dari lingkaran kecil menuju lingkaran yang lebih besar. Muscab nanti pun menjadi terasa berbeda.
Karena tanpa kehadirannya sebagai calon, peta persaingan akan berubah.
Figur-figur lain mulai menghitung peluang. Mulai mengukur kekuatan. Mulai menimbang dukungan. Tapi satu hal yang pasti, keputusan Agus meninggalkan satu pesan kuat.
Baca Juga:ISU ITU CERMIN BUKAN PALU!Pertarungan di Ka’bah Hijau: Muda Melawan Tua, Masa Depan Dipertaruhkan!
Bahwa memimpin bukan selalu soal bertahan di kursi. Kadang, memimpin justru dimulai dari keberanian untuk melepas kursi itu. (red)
