ISU ITU CERMIN BUKAN PALU!

Isu negatif
Gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

Kalau isu itu salah—jelaskan. Kalau isu itu benar—benahi. Kalau isu itu belum jelas—terangkan. Bukan dimarahi. Bukan disangkal dengan emosi.

Sebab publik hari ini bukan publik yang pasif. Mereka membaca. Mereka membandingkan. Mereka bertanya. Dan pertanyaan publik tidak bisa dihentikan dengan kemarahan.

Isu, dalam definisinya, memang sederhana, masalah pokok, fenomena, atau kabar yang belum jelas kebenarannya dan menjadi bahan diskusi publik.

Baca Juga:Pertarungan di Ka’bah Hijau: Muda Melawan Tua, Masa Depan Dipertaruhkan!Puluhan Ribu Motor Listrik Disebut Siap Didistribusikan ke Tiap SPPG di Jabar, Harga Motor Rp 56,8 Juta

Ia lahir dari perubahan sosial. Dari ketidakpuasan. Dari peristiwa dramatis. Kadang dari kelemahan manajemen.

Ia berkembang dari tahap kecil—origin—lalu masuk media, lalu menjadi diskusi luas. Kalau pada tahap awal sudah ditangani dengan bijak, isu bisa berhenti di sana.

Kalau tidak, ia akan tumbuh.

Bukan karena media ingin membesarkan. Tapi karena publik ingin tahu. Di titik inilah pertanyaan penting muncul: Apakah setiap isu harus dilawan? Atau justru harus didengarkan? Apakah setiap headline negatif adalah serangan? Atau mungkin itu cermin—yang memantulkan sesuatu yang tidak ingin kita lihat?

Semua percaya satu hal, organisasi yang sehat bukan yang bebas isu. Tapi yang mampu mengelola isu. Yang tidak alergi terhadap kritik. Yang tidak reaktif terhadap pertanyaan. Yang tidak mudah menuduh negative campaign.

Sebab pada akhirnya, isu itu bukan musuh. Ia adalah pesan. Dan setiap pesan—sekecil apa pun—selalu punya arti. Tinggal satu pertanyaan terakhir: apakah kita mau mendengarnya, atau justru memarahinya?. (red)

0 Komentar