TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Sabtu malam, 4 April 2026, Lanud Wiriadinata, Kota Tasikmalaya, bukan lagi milik pesawat. Ia milik rindu.
Rindu yang lama dipendam publik Tasikmalaya—bahkan Jawa Barat—akhirnya pecah begitu satu nama naik ke panggung: Rhoma Irama.
Tidak perlu aba-aba panjang. Begitu suara itu keluar—serak, khas, penuh tekanan emosi—ribuan orang langsung menjawab. Bukan dengan tepuk tangan saja. Tapi dengan nyanyian.
Baca Juga:Curi Motor Rekan Kerja di Kota Tasikmalaya karena Terjerat Judi SlotAnekdot KDM untuk Viman Alfarizi!
Serentak. Seolah semua hafal. Dan memang hafal. Itulah yang aneh. Sekaligus indah.
Di tengah zaman yang serba digital, di tengah dominasi musik yang serba cepat, lagu-lagu Rhoma Irama ternyata tidak hilang. Ia justru hidup—di kepala ibu-ibu, di ingatan bapak-bapak, bahkan di bibir anak muda dan generasi Z.
Malam itu tidak ada sekat usia. Semua tumplek. Dari yang berambut putih sampai yang baru lulus sekolah.
Mereka bercengkrama. Bergoyang. Menyanyi. Mengikuti irama yang dibawakan Rhoma Irama bersama Soneta Group.
Lanud berubah menjadi ruang nostalgia. Sekaligus ruang perayaan. Apalagi bagi Tasikmalaya, ini bukan sekadar konser. Ini tentang kebanggaan. Tentang seorang putra daerah yang menjelma menjadi Raja Dangdut—lalu pulang disambut ribuan hati.
Di antara kerumunan itu, ada seorang ibu dari Mangkubumi. Ia datang sejak selepas Ashar. Menunggu. Tidak mengeluh.
“Yang penting bisa lihat langsung,” katanya singkat. Kalimat yang sederhana. Tapi mengandung makna panjang: rindu itu tidak mengenal lelah.
Baca Juga:Bantuan Bencana di Kota Tasikmalaya Terus Disalurkan, Data Korban Masih DikejarAda Kado Pahit Dibalik Kerjasama BPJS dengan RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya
Panggung malam itu juga tidak sepi dari warna lain. Sejumlah musisi ikut memeriahkan. Ada Ari Lesmana, ada Yuke Pas Band dan lainnya. Namun tetap saja, pusat gravitasi malam itu satu: Rhoma.
Di kursi VIP, suasana tak kalah hidup. Wahid—Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya sekaligus Ketua DPC PKB—terlihat tidak menjaga jarak dengan suasana.
Ia larut. Didampingi sang istri, ia tampak hafal hampir semua lagu. Sesekali berdiri. Mengajak penonton berjoget. Menyanyi tanpa canggung.
Seorang wakil rakyat—yang malam itu tampak lebih sebagai penggemar. Baginya, ini bukan sekadar hiburan. Ini nostalgia.
