TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Jalan KHZ Mustofa yang dulu dielu-elukan sebagai “Malioboro-nya Kota Tasikmalaya” kini lebih mirip panggung tanpa sutradara.
Lampu hias padam, trotoar dikepung PKL, parkir liar merajalela—dan yang paling terasa: kawasan ini seperti kehilangan arah sejak awal dirancang.
Sorotan tajam datang dari kalangan budayawan. Bukan lagi sekadar soal teknis di lapangan, melainkan dugaan kosongnya konsep besar yang mestinya jadi fondasi penataan kawasan.
Baca Juga:Bantuan Bencana di Kota Tasikmalaya Terus Disalurkan, Data Korban Masih DikejarAda Kado Pahit Dibalik Kerjasama BPJS dengan RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya
Budayawan Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah atau Acong, menilai persoalan KHZ Mustofa bukan sekadar urusan penertiban.
Ia menyebut, tanpa konsep yang jelas, penataan hanya akan jadi siklus tambal sulam yang berulang.
“Kalau tidak punya konsep, ya hasilnya akan sama saja. Ditata ulang pun, nanti balik lagi seperti sekarang,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, gagasan awal menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang publik bernuansa Malioboro sebenarnya bukan ide buruk. Bahkan punya potensi.
Tapi sayangnya, ide itu seperti berhenti di baliho—tak pernah benar-benar turun menjadi sistem yang hidup.
Acong menilai hingga kini Pemerintah Kota Tasikmalaya belum menunjukkan arah tegas: apakah KHZ Mustofa akan menjadi destinasi wisata, ruang budaya, atau sekadar zona ekonomi informal yang dibiarkan tumbuh liar.
“Harus jelas. Mau dibawa ke mana kawasan ini? Kalau pemerintah saja gamang, jangan heran kalau di lapangan jadi semrawut,” katanya, lugas.
Baca Juga:Bocah SD di Tasikmalaya Meninggal Dunia Tertabrak Kereta saat Menyusuri Rel Menuju Rumah NeneknyaBanjir Cikalang Kota Tasikmalaya Rendam Puluhan Rumah, Viman Siapkan Solusi
Kritik paling pedas diarahkan pada pola penataan yang dianggap terlalu fokus pada fisik. Trotoar diperlebar, lampu dipasang—lalu selesai.
Padahal, menurut Acong, kekuatan ruang publik justru terletak pada ekosistem aktivitas dan nilai yang menghidupkannya.
Ia membandingkan dengan Malioboro di Yogyakarta, yang bukan sekadar rapi secara visual, tapi juga punya napas budaya yang terjaga.
Aktivitas seni, interaksi sosial, hingga keberadaan pelaku ekonomi diatur dalam satu konsep yang utuh.
“Malioboro itu hidup karena dirancang, bukan dibiarkan. Di sini? Konsepnya belum kelihatan,” sindirnya.
Kondisi KHZ Mustofa saat ini dinilai sebagai contoh klasik ketidaksinkronan antara pembangunan dan pengelolaan.
