Infrastruktur sudah dibangun, tapi arah pengelolaan seperti berjalan sendiri-sendiri—tanpa komando yang jelas.
Penataan PKL dan parkir pun, kata dia, seharusnya menjadi bagian dari desain kawasan, bukan sekadar operasi penertiban musiman yang hilang begitu saja setelah aparat pulang.
“Ini bukan soal melarang. Ini soal menempatkan semuanya dalam satu konsep. Kalau tidak, ya akan terus liar,” tegasnya.
Baca Juga:Bantuan Bencana di Kota Tasikmalaya Terus Disalurkan, Data Korban Masih DikejarAda Kado Pahit Dibalik Kerjasama BPJS dengan RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya
Kini, kawasan yang sempat dipromosikan sebagai ikon baru Kota Tasikmalaya justru memperlihatkan ironi: ambisi besar tanpa peta jalan.
“Malioboro Tasik” tinggal nama, sementara realitas di lapangan berjalan tanpa arah—seperti kota yang lupa sedang ingin jadi apa. (ayu sabrina barokah)
