Tak hanya dari sisi regulasi, Dewi juga menyinggung aspek moral dan keagamaan dalam menjaga lingkungan.
Ia menyebut Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan membuang sampah ke sungai, danau, maupun laut hukumnya haram karena merusak ekosistem dan membahayakan manusia.
“Membuang sampah ke sungai bukan hanya melanggar aturan, tapi juga merusak lingkungan dan kesehatan masyarakat,” tuturnya.
Baca Juga:Promotor Konser Jawab Masukan MUI: Tagline “Melepas Penat” Dinilai Tak Salah, Walaupun Kini BerubahGunung Jati Group Banjir Doa, 500 Warga Kota Tasikmalaya Buka Puasa Bersama
Dalam sesi edukasi itu, para siswa juga diajak menerapkan perilaku sederhana yang ramah lingkungan di sekolah.
Di antaranya menjaga kebersihan kelas, merawat sanitasi dan drainase, serta aktif dalam kegiatan rutin seperti program Jumat atau Sabtu Bersih.
“Membersihkan kelas, menjaga toilet tetap bersih, atau ikut kerja bakti di sekolah adalah bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan,” kata Dewi.
Pengelolaan sampah menjadi salah satu materi penting dalam kegiatan tersebut. Dewi menegaskan, persoalan sampah kerap bermula dari kebiasaan manusia yang enggan memilah dan mengelola sampah dengan benar.
“Masalah sampah sebenarnya berawal dari kebiasaan kita sendiri. Karena itu pengelolaannya juga harus dimulai dari sumbernya,” ujarnya.
Para siswa pun didorong menerapkan konsep 3R: *Reduce, Reuse,* dan *Recycle*. Mereka juga diajak mulai memilah sampah sejak dari rumah maupun sekolah.
“Mulai dari hal sederhana, seperti mengurangi plastik sekali pakai, menggunakan kembali barang yang masih layak, dan memilah sampah sesuai jenisnya,” jelasnya.
Baca Juga:Sembako Murah di Mapolres Kota Tasikmalaya Jaga Stabilitas Harga Bahan PokokHET LPG di Priangan Timur Tak Naik 12 Tahun, Hiswana Migas Sindir Janji Kepala Daerah
Selain itu, Dewi juga mengajak siswa memahami pentingnya konservasi air dan energi. Misalnya menggunakan air secukupnya, memperbaiki kran bocor, memanfaatkan air hujan, serta menggunakan kembali air bekas untuk kebutuhan lain.
Sementara dalam penghematan energi, siswa didorong memanfaatkan pencahayaan alami pada siang hari, menggunakan lampu hemat energi, serta mematikan peralatan listrik saat tidak digunakan.
“Penghematan energi bukan berarti mengurangi kebutuhan, tetapi menggunakan energi secara bijak tanpa pemborosan,” ujarnya.
Kegiatan penghijauan juga menjadi bagian dari edukasi tersebut. Para siswa diajak terlibat dalam pembibitan, penanaman, hingga perawatan tanaman di lingkungan sekolah.
“Jika siswa terbiasa menanam dan merawat pohon, rasa memiliki terhadap lingkungan akan tumbuh. Dari situlah kepedulian terhadap bumi mulai terbentuk,” pungkasnya. (ayu sabrina barokah)
