Namun baginya, menyerah bukanlah pilihan dalam sepak bola.
Ia menjelaskan bahwa saat tertinggal, timnya dihadapkan pada dua kemungkinan: menutup permainan dan menerima kekalahan, atau tetap mencoba menekan demi mengejar gol.
Persebaya, kata dia, memilih opsi kedua—terus menyerang walau risikonya ruang pertahanan terbuka dan memberi peluang bagi lawan mencetak gol tambahan.
Pendekatan menyerang itu tetap menjadi identitas permainan Persebaya.
Hanya saja, Tavares berencana menyempurnakannya agar lebih seimbang ketika menjamu Persita nanti.
Baca Juga:Persija Dapat Sponsor Baru, Menjadi Tambahan Energi Menjalani Super League 2025Respons Pelatih Persik Kediri Usai Ezra Walian Dipanggil Masuk Timnas Indonesia Lagi
Ia ingin agresivitas tim tetap terjaga, tetapi dengan organisasi pertahanan yang lebih disiplin.
Dengan jeda kompetisi yang memberi waktu persiapan hampir tiga minggu, Tavares kini mengalihkan fokus pada pemulihan mental tim.
Ia berusaha menghidupkan kembali atmosfer positif di ruang ganti agar para pemain tidak terus dibayangi kekalahan di Samarinda.
Menurutnya, rasa kecewa memang tidak bisa dihindari setelah kekalahan besar.
Namun yang lebih penting adalah bagaimana tim meresponsnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh skuad harus belajar dari kesalahan, melakukan evaluasi mendalam, lalu kembali ke lapangan dengan versi yang lebih kuat saat menghadapi Persita.
Bagi Tavares, pertandingan di Gelora Bung Tomo nanti bukan sekadar laga lanjutan liga.
Itu adalah kesempatan bagi Persebaya untuk membuktikan bahwa mereka mampu bangkit—bukan hanya dari kekalahan, tetapi juga dari tekanan yang menyertainya.
