Transfer Pejabat Pemkab Tasik Tahun Ini: Dua Kadis dari Purwakarta dan Kementerian (part 1)

Kadis impor
Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin bersalaman dengan Kepala DPU-TRPP-LH Deden Ramdan Nugraha (tengah) dan Kadisdikbud Wandi Herviandi (kiri) usai dilantik di Opp Room Setda Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (3/2/2026). (DIKI SETIAWAN / RADARTASIK.ID)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin memilih jalur yang berbeda. Beberapa waktu lalu Ia tidak sekadar merotasi. Ia “mengimpor”.

Dua kursi strategis diisi wajah dari luar Tasik. Kepala Dinas PUPR dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya.

Langkah itu sah. Undang-undang membolehkan. Sistem merit membuka ruang. Tidak ada yang dilanggar.Tetapi pertanyaannya bukan soal boleh atau tidak.

Baca Juga:Menjaga Kepercayaan!Pangan Dipasok Luar Daerah, Kota Tasikmalaya Hanya Jadi "Meja Makan"

Pertanyaannya,mengapa harus impor? Dua nama itu kini resmi berkantor di Singaparna.

Pertama, Deden Ramdan Nugraha. Sebelumnya Sekretaris Dinas Perhubungan di Kabupaten Purwakarta. Kini menjabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang Perumahan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Tasikmalaya.

Kedua, Wandi Herviandi. Sebelumnya Widyaiswara Ahli Madya Vokasi Teknis di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kini memimpin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya.

Dua sektor ini bukan sektor kecil. PUPR adalah urat nadi infrastruktur. Jalan, jembatan, tata ruang, permukiman.Disdikbud adalah jantung masa depan. Sekolah, guru, budaya, generasi. Memilih orang luar untuk dua kursi ini tentu bukan keputusan spontan.

Cecep sendiri menegaskan, jabatan bukan status sosial. Tapi amanah. Integritas moral. Profesionalitas tinggi.

Ia meminta pejabat yang dilantik segera beradaptasi. Mengidentifikasi masalah. Membuat langkah solutif. Selaras dengan RPJMD lima tahun ke depan.

Ia juga menekankan kolaborasi lintas sektor. Evaluasi mingguan. Rapat pimpinan rutin di Setda. Bahasanya jelas, kinerja.

Baca Juga:Bukan Sekedar Bukber!Admin Kominfo Juga Manusia!

Tetapi di balik itu, bisik-bisik di kalangan ASN mulai terdengar. “Apakah tidak ada yang layak di Tasik?”

Kabupaten ini punya ribuan ASN. Puluhan pejabat eselon. Banyak yang berkarier dari nol. Dari staf. Dari kecamatan. Dari pelosok desa. Mereka sekolah. Ikut diklat. Ambil gelar tambahan. Menunggu giliran promosi.Lalu dua kursi strategis justru diisi dari luar.

Wajar jika muncul pertanyaan. Apakah ini soal kemampuan? Soal rekam jejak? Soal chemistry?Atau soal kepercayaan?

Dalam dunia sepak bola, ini seperti membeli pemain transfer saat merasa skuad lama kurang tajam. Tidak ada yang salah. Bahkan kadang perlu untuk mengguncang ruang ganti.

0 Komentar