Transfer Pejabat Pemkab Tasik Tahun Ini: Dua Kadis dari Purwakarta dan Kementerian (part 1)

Kadis impor
Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin bersalaman dengan Kepala DPU-TRPP-LH Deden Ramdan Nugraha (tengah) dan Kadisdikbud Wandi Herviandi (kiri) usai dilantik di Opp Room Setda Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (3/2/2026). (DIKI SETIAWAN / RADARTASIK.ID)
0 Komentar

Tetapi konsekuensinya besar. Jika pemain impor sukses, publik akan diam. ASN pun akan mengakui. Jika gagal, kritik akan lebih keras. Karena sejak awal sudah mengundang tanya.

Langkah ini juga mengirim pesan simbolik.Bahwa Bupati ingin standar tertentu. Mungkin ingin energi baru. Perspektif baru. Atau ingin memutus mata rantai lama yang dianggap kurang progresif.

Namun di sisi lain, ada risiko psikologis di internal birokrasi. Jika ASN merasa peluang puncak karier bisa diisi orang luar, motivasi bisa tergerus. Mereka bisa bertanya dalam hati: untuk apa berjuang lama-lama?

Baca Juga:Menjaga Kepercayaan!Pangan Dipasok Luar Daerah, Kota Tasikmalaya Hanya Jadi "Meja Makan"

Di sinilah kepemimpinan diuji. Mengimpor pejabat bukan hanya soal mendatangkan orang baru. Tapi juga bagaimana menjaga moral pasukan lama.

Pada akhirnya, publik tidak terlalu peduli asal pejabat itu dari mana. Publik hanya ingin jalan tidak cepat rusak. Sekolah tidak kekurangan guru. Anggaran tidak bocor. Program terasa.

Dua pejabat ini kini memikul ekspektasi ganda: membuktikan diri kepada bupati yang memilih mereka, dan meyakinkan ASN Tasik bahwa keputusan ini bukan bentuk ketidakpercayaan, melainkan strategi.

Karena di birokrasi, seperti juga di sepak bola, satu hal yang paling menentukan bukan asal pemainnya. Tapi hasil akhirnya di papan skor pembangunan. (red)

0 Komentar