TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Ketika menjelang Ramadan, dapur warga Kota Tasikmalaya mulai terasa lebih mahal. Beras merangkak, cabai menyengat, minyak goreng ikut panas.
Di tengah gejolak harga itu, Gerakan Pangan Murah (GPM) hadir seperti oase—sayangnya, tahun ini oasenya tidak lagi seluas dulu.
Lapangan Eks Terminal Muncang, Kecamatan Kawalu, Kamis (26/2/2026), dipenuhi warga sejak pagi.
Baca Juga:Pendapatan Konser Musik di Kota Tasikmalaya Sering Bocor, Pemkot Dorong Skema Bayar Pajak di MukaGerhana Bulan Total di Ramadan, BHRD Kota Tasikmalaya Ingatkan Warga: Jangan Cuma Foto Tapi Shalat
Bukan karena ada konser atau pasar malam, melainkan karena harga. Di sana, beras, minyak goreng, telur, cabai, bawang merah, hingga tepung terigu dijajakan dengan selisih Rp2.000 sampai Rp3.000 lebih murah dibanding pasar.
Selisih kecil, tapi berarti. Terutama bagi ibu-ibu yang belanjanya tidak hanya satu item.
“Kalau belinya banyak, ya kerasa. Ini buat persiapan Ramadan,” kata Siti (43), sambil memeluk karung beras, minyak goreng, dan sekilo daging ayam.
Daging ayam di pasar sudah menyentuh Rp40.000 per kilogram. Di GPM, harganya Rp38.000. Minyak goreng Minyakkita disiapkan 50 karton. Beras 1,5 ton atau sekitar 300 kemasan. Tepung terigu dan gula masing-masing 40 kilogram. Stok cepat menyusut, antrian cepat memanjang.
Bagi sebagian warga, GPM bukan sekadar belanja murah, tapi strategi bertahan hidup.
“Sekarang cabai sama bawang juga naik. Kalau bisa jangan cuma sekali-sekali. Kebutuhan tiap minggu ada,” ujar Rudi (35), warga Kawalu lainnya.
Dari sisi pemerintah, kegiatan ini disebut sebagai bagian dari stabilisasi pasokan dan harga pangan.
Baca Juga:Berkas Tersangka Eksploitasi Anak Dilimpahkan, Polisi Tinggal Menunggu “Lampu Hijau” Jaksa Kota TasikmalayaTak Mau Bandara Sepi Lagi, Kota Tasikmalaya Dorong Promosi Udara dan Kerja Sama Priangan Timur
Kepala Bidang Ketahanan Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Tasikmalaya, Fria Hayatin Nufus, mengatakan permintaan pangan memang meningkat menjelang Ramadan.
“Permintaan naik, itu hukum ekonomi. Tapi secara umum ketersediaan masih aman dan terkendali,” tuturnya.
Setiap kali GPM digelar, omzet transaksi bisa mencapai Rp20 juta dalam sehari. Rata-rata warga menghabiskan belanja minimal Rp100.000.
Angka itu menunjukkan satu hal: kebutuhan besar, ketergantungan juga besar.
Namun tahun ini, jumlah GPM justru dipangkas drastis. Jika tahun lalu bisa digelar hingga 60 kali, tahun ini hanya direncanakan 14 kali.
“Bukan karena daya beli masyarakat turun. Ini karena efisiensi anggaran, termasuk dampak pemangkasan dana transfer pusat ke daerah,” terang Fria.
