Di sinilah ironi mulai terasa. Harga kebutuhan pokok naik, warga makin butuh intervensi, tapi ruang intervensi justru menyempit. GPM berubah dari program rutin menjadi agenda rebutan jadwal.
Permintaan masyarakat agar GPM diperbanyak terus berdatangan. Banyak wilayah berharap kebagian giliran.
Tapi dengan frekuensi terbatas, akses pangan murah kini bergantung pada kalender pemerintah, bukan pada kebutuhan dapur warga.
Baca Juga:Pendapatan Konser Musik di Kota Tasikmalaya Sering Bocor, Pemkot Dorong Skema Bayar Pajak di MukaGerhana Bulan Total di Ramadan, BHRD Kota Tasikmalaya Ingatkan Warga: Jangan Cuma Foto Tapi Shalat
Di tengah fluktuasi harga beras, minyak goreng, telur, dan cabai menjelang Ramadan, GPM menjadi semacam payung bocor: tetap berguna, tapi tak bisa menutupi semua kepala.
Warga tetap berburu, meski lapaknya makin jarang. Pemerintah tetap hadir, meski langkahnya kini lebih hemat.
Dan Ramadan pun datang dengan satu pertanyaan sederhana dari pasar ke pasar: siapa cepat, dia dapat murah. (ayu sabrina barokah)
