TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada yang menarik dari sebuah perjalanan pulang. Bukan karena jaraknya. Bukan pula karena tiketnya habis.
Tapi karena yang naik bus itu seorang bupati. Namanya: Cecep Nurul Yakin. Bupati Tasikmalaya.
Ia memposting video sederhana. Caption-nya ringan: “Nostalgia Mudik Asik ke Tasikmalaya, berangkat dari Depok ke Tasikmalaya.” Sederhana. Tapi publik tidak pernah sederhana dalam menafsirkan.
Baca Juga:Kuota Penukaran Ludes, Warga Kota Tasikmalaya Bingung Mencari Uang Pecahan untuk THR LebaranPotensi Perputaran Uang MBG di Kota Tasikmalaya Bisa Tembus Rp 300 Miliar Pertahun!
Tanggal 27 Februari 2026, Cecep mengaku memulai hari dengan Safari Ramadan di Kecamatan Jamanis.
Siang harinya, pukul dua, ia meluncur ke Depok. Bersama para bupati/wali kota se-Jawa Barat. Memenuhi undangan Gubernur Jawa Barat.
Ia berangkat dari Tasikmalaya diantar mobil dinas sampai Tegal Luar, Bandung. Lalu naik Whoosh — kereta cepat kebanggaan baru itu.
Dari stasiun, ia naik taksi ke Depok. Rangkaian perjalanan yang modern. Cepat. Efisien. Namun ketika hendak kembali, jadwal Whoosh sudah habis. Di sinilah cerita berubah.
Pilihan Itu bernama Bus Budiman. Cecep tidak menunggu esok hari. Ia memilih pulang malam itu juga. Dengan bus. Bukan bus sembarang bus. Melainkan bus yang bagi warga Tasikmalaya bukan sekadar kendaraan: PO Budiman.
Ia menyebutnya “bus legendaris”. Bagi Cecep, Budiman bukan sekadar armada. Itu nostalgia. Dulu, saat kuliah di Bandung, bus itulah yang mengantar-pulang-pergi.
Ada kenangan di kursi bus itu. Ada cerita mahasiswa di setiap trayeknya. Dalam videonya ia bahkan menyampaikan terima kasih.
Baca Juga:Dahlan Iskan Menangkan Gugatan Lawan Jawa Pos soal Kepemilikan Saham Radar BogorDiduga Akun ASN Kota Tasikmalaya Jadi “Buzzer Dadakan” Bela soal Video Bapelitbangda!
“Hatur nuhun Pak H. Ateng, Pak H. Dede, Pak H. Yoni dan seluruh keluarga besar PO Budiman. Tolong terus dijaga kekompakan untuk menjaga peninggalan almarhum H. Saleh Budiman.” Ucapan yang hangat. Personal. Sarat memori.
Namun publik hari ini hidup di zaman tafsir. Setiap gestur pejabat dibaca dalam tiga lapis. Apakah ini spontan? Apakah ini pencitraan? Apakah ini ada kepentingan.
Padahal kadang hanya soal: tiket habis.
Sensitivitas publik terhadap transportasi pilihan kepala daerah bukan tanpa sebab. Di negeri ini, kendaraan sering menjadi simbol.
Naik pesawat: dianggap elitis.
Naik mobil dinas mewah: dianggap boros.
