RADARTASIK.ID – Ada pemandangan tak biasa dalam laga panas antara Juventus dan Galatasaray di Liga Champions.
Saat Victor Osimhen mencetak gol penting bagi tim tamu, nyaris tak ada selebrasi yang ia tunjukkan.
Padahal, gol tersebut sangat berarti. Penyerang asal Nigeria itu mencetak gol pertama Galatasaray dalam kekalahan 2-3 pada babak perpanjangan waktu di Allianz Stadium.
Baca Juga:Inter Tak Lagi Menakutkan di Liga Champions, Oaktree Diminta Beli Pemain BintangMedia Italia: Inter Akan Lepas Tujuh Pemain Musim Depan
Meski kalah di laga tersebut, hasil agregat tetap mengantar wakil Turki lolos ke babak 16 besar Liga Champions UEFA.
Namun yang menjadi sorotan bukan sekadar golnya, melainkan ekspresi Osimhen setelah bola bersarang di gawang Juventus.
Ia hanya mengangkat tangan singkat, tanpa selebrasi berlebihan. Wajahnya pun terlihat datar.
Usai pertandingan, Osimhen akhirnya menjelaskan alasannya dalam wawancara bersama Prime Video.
“Tidak perlu merayakannya. Saya pikir penting untuk menghormati seseorang yang sangat saya sayangi dan punya peran besar dalam karier saya. Saya tentu berbicara tentang Spalletti,” kata Osimhen dikutip dari Tuttomercatoweb.
Pernyataan itu langsung mengarah pada sosok Luciano Spalletti, pelatih Juventus saat ini yang pernah bekerja sama erat dengan Osimhen di masa lalu.
Bagi Osimhen, Spalletti bukan sekadar mantan pelatih. Sosok asal Italia itu pernah menjadi figur penting dalam perkembangan kariernya di level tertinggi Eropa.
Baca Juga:Alexander Sorloth: Bomber Norwegia yang Batal Gabung AS Roma karena Tammy AbrahamFans Juventus Beri Tepuk Tangan untuk Sepak Bola Menyerang Spalletti
Kepercayaan, bimbingan taktik, dan dukungan mental yang diberikan Spalletti meninggalkan kesan mendalam.
Karena itulah, saat mencetak gol ke gawang tim yang kini dilatih oleh Spalletti, Osimhen memilih menahan emosinya.
“Kami juga bermain kurang baik, bahkan saat unggul jumlah pemain. Jadi tidak ada alasan untuk merayakan gol itu secara berlebihan. Saya bukan tipe pemain yang menyembunyikan emosi,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan sisi lain dari sepak bola profesional: rivalitas di atas lapangan tidak selalu menghapus rasa hormat dan hubungan personal.
Gol Osimhen pada menit 105+1 mematikan harapan Juventus untuk comeback dramatis, sebelum akhirnya Baris Alper Yilmaz memastikan agregat tetap berpihak kepada Galatasaray.
Menariknya, Osimhen juga mengaku memperhatikan respons suporter di stadion.
“Saya melihat banyak orang bertepuk tangan untuk Juventus. Tapi saya tetap senang dengan kemenangan ini dan karena kami berhasil lolos,” pungkasnya.
