Rumah Ambruk, Bantuan Mandek: Kisah Lansia Kota Tasikmalaya Bertahan Hidup di Tenda Darurat

lansia tinggal di tenda darurat akibat rumah ambruk di Kota Tasikmalaya
Kondisi rumah Muslihin (62), warga Kota Tasikmalaya di Tamansari yang sudah tidak layak dan terpaksa mengungsi di tenda darurat, Rabu (25/2/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di Kampung Babakan, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, ada sepasang lansia yang hidupnya kini lebih akrab dengan suara hujan di atas terpal daripada derit pintu rumah sendiri.

Muslihin (62) dan istrinya sudah lima bulan meninggalkan rumah panggung mereka. Bukan karena pindah alamat, melainkan karena bangunan itu berubah menjadi ancaman keselamatan.

Dapur roboh, lantai goyah, tiang-tiang kayu lapuk dimakan usia. Rumah yang dulu melindungi, kini justru menakutkan.

Baca Juga:Ventilator RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya yang “Bangun Tidur”Kota Tasikmalaya Ngos-Ngosan, APBD Susut: Air Putih Resmi Naik Kelas, Gorengan Turun Kasta!

Semua bermula saat musim kemarau berganti hujan deras. Muslihin mengira ada gempa kecil. Rumahnya bergetar. Tapi tetangga tak merasakan apa-apa. Dari luar, bangunan tampak miring. Saat dicek, dapur sudah lebih dulu menyerah pada gravitasi.

“Kapungkur halodo, terus hujan gede. Imah asa ngariyeg siga aya lini. Tapi ceuk batur teu aya. Dititenan, dapur teh rugrug we,” tuturnya, Rabu (25/2/2026).

Sejak itu, rumah panggungnya pelan-pelan berubah jadi bangunan uzur yang tinggal menunggu waktu. Lantai kayu makin rapuh. Atap bocor di banyak titik. Air hujan menetes seperti jam pasir yang menghitung mundur umur rumah tersebut.

Demi keselamatan, Muslihin dan istrinya memilih keluar. Mereka kini tinggal di tenda darurat bantuan BPBD Kota Tasikmalaya yang dipasang di dekat rumahnya. Sebuah hunian sementara yang lebih cocok disebut ruang tunggu nasib.

Tenda itu bukan hadiah, melainkan titipan.

“Cenah ieu mah nambutkeun, sanes masihan. Mun imah geus dirombak, tenda bakal dicandak deui,” katanya lirih.

Di dalam tenda, hidup berjalan dengan ukuran baru. Siang hari terasa seperti dipanggang matahari. Malam hari, hujan berubah jadi orkestra air di atas terpal.

Untuk pasangan lansia, kenyamanan bukan lagi soal empuk atau luas, tapi sekadar bisa tidur tanpa takut atap runtuh.

Baca Juga:PJU Padam Bertahun-tahun di Kawalu Kota Tasikmalaya, Warga Bertanya: Lagi Hemat Energi atau Lupa Dipelihara?Gunung Jati Group Santuni 600 Anak Yatim di Kota Tasikmalaya, Ramadan Jadi Tabungan Akhirat

Muslihin tidak banyak menuntut. Tidak minta rumah beton dua lantai. Tidak berharap kemewahan.

“Teu seuer kahoyong. Mun aya rezeki, hoyong bumi panggung deui wae. Anu aman,” ucapnya.

Kondisi Muslihin menjadi perhatian warga sekitar. Agus Sofyan alias Jarwo, pemuda Tamansari, mengatakan pengajuan bantuan sudah dilakukan berlapis-lapis: RT, RW, hingga kelurahan.

0 Komentar