Pasar Rakyat Purbaratu berdiri di atas lahan 2.029 meter persegi dengan bangunan 938 meter persegi senilai Rp1,57 miliar.
Sementara Pasar Rakyat Awipari menjadi yang terbesar, dengan luas bangunan 2.989 meter persegi di atas lahan 7.674 meter persegi dan nilai aset mencapai Rp5,75 miliar.
Total investasi tiga pasar itu menembus angka lebih dari Rp8,7 miliar. Angka besar untuk pasar yang sepi pengunjung.
Baca Juga:Ramp Check Bus di Kota Tasikmalaya, Satlantas Pastikan Armada Tak Sekadar Jalan Tapi Juga Layak JalanFortuner Tabarakan dengan Ojol di Kota Tasikmalaya, Diduga Pengemudi Mobil Mengantuk
Ironisnya, pasar yang seharusnya menjadi simpul perputaran uang justru berpotensi menjadi beban keuangan daerah.
Karena tercatat sebagai aset pemerintah, kios dan los tetap memiliki kewajiban retribusi.
Saat kios kosong dan pedagang tidak beroperasi, retribusi tidak tertagih dan akhirnya berubah menjadi piutang daerah.
Pemerintah daerah sebenarnya telah mencoba mendorong adaptasi melalui pelatihan digital marketing agar pedagang bisa memasarkan dagangan secara daring.
Namun kondisi tiga pasar yang hampir tanpa aktivitas menunjukkan bahwa pendekatan tersebut belum menyentuh akar masalah: mulai dari lokasi pasar, pola belanja masyarakat, hingga sistem pengelolaan pasar itu sendiri.
Pasar sudah dibangun, uang sudah dikeluarkan, tetapi konsep hidupnya masih dicari.
Di Kota Tasikmalaya, pasar rakyat kini bukan hanya soal jual beli, melainkan soal bagaimana kebijakan menemukan kembali maknanya di lapangan. (ayu sabrina barokah)
