TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Malam pergantian tahun di Kota Tasikmalaya selalu dipenuhi harapan, doa, dan letupan kembang api.
Namun seperti janji yang sering terucap tanpa rencana, euforia itu juga meninggalkan sesuatu yang tak ikut dirayakan: sampah. Banyak sampah.
Ketika hitung mundur selesai dan warga pulang membawa resolusi baru, jalanan pusat kota justru dipenuhi sisa-sisa lama.
Baca Juga:Wali Kota Tasikmalaya Jangan Duduk Manis Terima Laporan ABS Soal Penggalian Retribusi ParkirRefleksi Malam Tahun Baru di Kota Tasikmalaya: dari Keramaian HZ Mustofa Menuju Doa Bersama
Plastik kemasan, botol minuman, dan bekas makanan tercecer seolah menjadi catatan kaki dari pesta yang katanya sederhana dan tertib.
Di saat sebagian warga masih terlelap atau sibuk mengunggah momen tahun baru ke media sosial, 30 petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya memulai pekerjaan yang jarang masuk kamera.
Mereka menyapu, mengangkut, dan membersihkan jejak perayaan sejak pukul 00.00 WIB hingga menjelang subuh.
“Begitu tahun berganti, kami langsung bergerak. Dari jam 00.00 sampai jam 4 subuh, fokus di Taman Kota, Masjid Agung, dan Jalan HZ Mustofa,” ujar Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana, Kamis (1/1/2026).
Tiga kawasan itu bukan sembarang lokasi. Di sanalah pusat keramaian, pusat doa, sekaligus pusat konsumsi.
Ribuan orang berkumpul, dan seperti hukum tak tertulis kota, semakin ramai suatu tempat, semakin banyak pula sampah yang ditinggalkan—seolah ada keyakinan kolektif bahwa kota akan membersihkan dirinya sendiri.
Hasilnya, sekitar 12 meter kubik sampah terkumpul hanya dalam beberapa jam. Setara satu truk kecil penuh sesak.
Baca Juga:Malam Tahun Baru di Kota Tasikmalaya, Ribuan Pejalan Kaki Padati Jalur HZ Mustofa Portal Parkir VIP Setda Kota Tasikmalaya Dibela Tokoh Masyarakat: Jangan Dipelintir Jadi Sekat dengan Warga
Atau jika ingin dibayangkan lebih jujur, sekitar 12.000 liter kenangan tahun baru yang tak semua orang mau mengakuinya sebagai milik sendiri.
Jumlah itu baru berasal dari kawasan pusat Kota Tasikmalaya. Bukan dari gang-gang kecil atau wilayah pinggiran.
Artinya, satu malam perayaan cukup untuk menguji kesabaran sistem pengelolaan sampah kota—dan kesadaran warganya.
Bagi DLH, membersihkan kota saat orang lain tidur bukan pilihan, melainkan keharusan.
Jika tidak, pagi pertama tahun baru akan dibuka dengan pemandangan yang kontras: harapan baru di spanduk, sampah lama di trotoar.
Pembersihan pun berlanjut. Pukul 06.00 WIB, DLH Kota Tasikmalaya menggelar aksi Clean The City.
