PKL Nekad Kembali Berjualan, Mengaku Sudah Mendapatkan Izin dari Bupati

PKL Nekad Kembali Berjualan
Para PKL di depan Masjid Agung Baiturrahman Singaparna nekad berjualan setelah sebelumnya ditertibkan oleh Satpol PP Kabupaten Tasikmalaya (Fitriah Widayanti/radartasik.id)
0 Komentar

SINGAPARNA, RADARTASIK.ID – Sejumlah Pedagang Kaki Lima atau PKL nekad kembali berjualan di depan Masjid Agung Baiturrahman Singaparna setelah diamankan oleh Satuan Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tasikmalaya pada Oktober 2023 lalu.

Berdasarkan pantauan Radar, terdapat lebih dari sepuluh gerobak PKL tepat di depan masjid. Mayoritas PKL berjualan makanan, baik makanan ringan maupun makanan ringan seperti nasi.

Hesti (33), salah satu pedagang mengaku nekat kembali berjualan setelah diamankan Satpol PP beberapa waktu lalu.

Baca Juga:Taman Kantor Bupati Tak Terurus, Sampah Berserakan, Banyak Rumput Liar Dikeluhkan PengunjungRelokasi Pasar Singaparna Terkendala Anggaran

Hal itu lantaran sepinya pembeli yang datang ke tendanya jika berjualan di dalam area masjid. “Jangankan di dalam, di lorong aja deket masjid, kalau lagi gak ada mah gak ada. Kalau di sini kan yang lewat banyak,” ungkap Hesti kepada Radar, Senin (22/1/2024).

Selain itu, alasan Hesti kembali berjualan di luar adalah pintu gerbang masjid yang selalu ditutup, sehingga berpengaruh terhadap pendapatannya.

“Itu di dalam, gak mau sepi gitu. Ini kan pagar ditutup gak boleh dibuka. Kalau dibuka mah ya lumayan lah. Sebelumnya kan pernah dibuka pas udah lama tiba-tiba ditutup lagi. Kalau dibuka mah yang jualan juga gak bakalan keluar. Sebab ini dikunci terus, di dalam gak ada, gak dapat uang jadinya ke sini lagi keluar,” katanya.

Ia mengaku baru bisa menggelar lapaknya pada siang hari saat sudah tidak ada sidak dari Satpol PP. “Itu juga Satpol PP kalau pagi-pagi mah ada cuma sehabis duhur,” ujarnya.

Sementara itu pedagang lainnya, Iis mengaku bahwa dirinya sudah mendapat izin dari bupati untuk berjualan di depan Masjid Agung Singaparna dengan syarat bisa menjaga kebersihan. “Dari awal juga kan bupati bilang gak apa-apa. Asal bersih. Sama bupati dikasih tempat,” kata Iis.

Namun kini Iis mengatakan bahwa para PKL yang berjualan terus diusik oleh beberapa pihak meskipun mereka rutin membayar uang sewa lapak yang berkisar antara Rp1.000-5.000 per hari.

0 Komentar