Kekerasan dalam Keluarga Masih Membayangi Pertumbuhan Anak

kekerasan terhadap anak
Sejumlah anak mewakili sekolah mereka mengikuti peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2024 di Stadion Dadaha, Selasa 23 Juli 2024. (Ayu Sabrina/Radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID –  Direktur Taman Jingga, Ipa Zumrotul Falihah, mengatakan Hari Anak Nasional harus jadi cambuk pengingat bahwa perlindungan terhadap anak mesti digalakkan semua pihak. Masih banyak ancaman yang menghantui anak-anak.

Dari mulai kekerasan fisik, verbal, juga kekerasan seksual. Termasuk perundungan di lingkungan sekolah juga di lingkungan masyarakat dan kasus cyberbullying.

“Penyelenggaraan Peringatan Hari Anak Nasional yang dilaksanakan setiap tahun tersebut memberikan rasa gembira kepada anak-anak. Karena banyak acara dan momen penting yang dapat mereka nikmati pada perayaan tersebut. Tapi pada saat yang sama, anak-anak belum terbebas dari ancaman-ancaman yang menghantui mereka,” katanya, Selasa 23 Juli 2024.

Baca Juga:SK PAN Diprediksi Mendekat ke Murjani Jelang Pendaftaran Pilkada Kota Tasikmalaya 2024!Gansa Persada MAN 1 Tasikmalaya Raih Juara 1 di Hari Bhakti Adhyaksa Ke-64

Selain itu, kata Ipa, angka pernikahan usia anak cukup memprihatinkan di beberapa daerah di Indonesia.

Ia juga menyoroti maraknya pekerja anak, rokok dan iklan rokok, penyalahgunaan miras dan Napza, geng motor, tawuran pelajar, fasilitas umum ramah anak yang kurang memadai dan jauh dari merata.

“Tidak sedikit juga anak yang terlibat LGBT menjadi ancaman bagi keberlangsungan tumbuh kembang anak. Yang paling tidak disadari oleh kita adalah, ancaman penyalahgunaan gadget oleh anak-anak menyebabkan bagian dari sumber masalah dari masalah pada anak saat ini,” ungkapnya.

“Belum lagi anak yang berhadapan dengan hukum karena terseret kasus pidana. Tindak pidana yang dilakukan anak-anak juga bermacam-macam mulai dari kasus kekerasan, perkara asusila, pencurian, senjata tajam, dan penggunaan obat-obat terlarang,” lanjutnya.

Menurut aktivis perempuan dan anak ini, masalah yang terjadi pada anak bukan tanpa sebab, ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Faktor terbesar adalah dari keluarga.

“Menarik ini untuk dicermati pengalaman pribadi di lapangan selama empat tahun bergerak dalam pendampingan kasus-kasus anak di lembaga yang saya dirikan yaitu Taman Jingga (lembaga non profit untuk perlindungan hak hak anak dan perempuan, red),” ujarnya.

“Setelah pendampingan dari kasus ke kasus anak, saya menemukan fenomena dimana rata rata anak bermasalah baik itu sebagai korban ataupun sebagai pelaku setelah ditelusuri ternyata orang tuanya juga bermasalah,” lanjut Ipa.

0 Komentar