GeNose Diyakini Bisa Deteksi Varian Baru

MENGGUNAKAN GENOSE. Calon penumpang kereta api saat menggunakan pemeriksaan GeNose di salah satu stasiun di Jakarta beberapa waktu lalu. Foto bawah, petugas memeriksaan kantung GeNose.

JAKARTA – Alat screening diagnostik Covid-19 berbasis embusan napas GeNose C19 diyakini dapat mendeteksi infeksi akibat varian baru. Alat ini mendeteksi hasil metabolisme tubuh.

Yaitu berupa volatile organic compound (VOC) atau senyawa organik yang mudah menguap pada embusan napas seseorang.
“Varian-varian baru sudah bermunculan. Kami optimistis GeNose tetap bisa menjaga akurasinya,” kata Juru bicara Tim Pengembang GeNose C19, Mohamad Saifudin Hakim, Jumat (20/4/2021).

Dia menjelaskan, GeNose tidak mendeteksi virus secara langsung. Alat buatan tim peneliti UGM tersebut mendeteksi hasil metabolisme tubuh, berupa volatile organic compound (VOC).

“Senyawa organik yang mudah menguap pada embusan napas seseorang. Pola VOC yang dihasilkan dari seseorang yang terinfeksi Covid-19 dari bermacam-macam varian tetap tidak mengalami perubahan,” paparnya.

Dengan teori itu, Saifudin meyakini berbagai varian Covid-19 yang muncul tidak akan mengurangi kemampuan deteksi GeNose. Selain itu, komponen kecerdasan buatan (AI) yang diterapkan dalam mesin GeNose juga akan terus diperbarui.

Varian baru Covid-19 B1617 telah masuk Indonesia. Sebanyak 10 warga telah terdeteksi mengidap varian yang ditemukan di India ini.

Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi meminta agar masyarakat waspada terhadap penyebarannya.

Terlebih dari varian baru ini, kasus positif Covid-19 di India mengalami lonjakan yang laur biasa. Untuk mencegah terjadinya penularan varian B1617, dia meminta agar masyarakat membatasi mobilitas.

“Pembatasan (mobilitas) menjadi kunci utama kita untuk mengatasi varian dan penyebaran dari varian baru ini,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (2/5/2021).

Diungkapkannya, varian baru yang muncul di Indonesia tersebut ditemukan melalui kasus transmisi lokal.
“Kasus itu terjadi di Kabupaten Karawang, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan. Sedangkan, kasus lainnya akibat terpapar dari luar negeri,” kata dia.

Karenanya, menurutnya, penularan varian baru bisa dihindari jika mobilitas masyarakat berkurang. Langkah itu juga menjadi formula mencegah terjadinya lonjakan kasus Covid-19.

“Kita melihat bahwa mobilitas yang tinggi akan menyebabkan lonjakan kasus, sementara mobilitas yang rendah itu akan menekan laju penularan,” ujarnya.

Ditemukan Virus Kebal Vaksin

Ditemukan mutasi virus corona yang kebal terhadap vaksin. Meski demikian temuan itu masih bersifat sementara dan perlu penelitian lanjutan.

Shahid Jameel, Pimpinan Konsorsium Genetika SARS-CoV-2 (INSACOG) sebuah forum ilmuwan India mengatakan ditemukan mutasi kecil pada beberapa sampel virus corona yang dapat menghindari respons imun. Namun, ditegaskannya temuan tersebut masih perlu dikaji lagi.

“Kami melihat beberapa mutasi muncul pada beberapa sampel yang mungkin dapat menghindari tanggapan kekebalan,” kata Shahid Jameel seperti dikutip Reuters, Sabtu (1/5/2021).

Meski demikian, Shahid tak menyebutkan secara rinci, apakah mutasi tersebut terlihat pada varian India atau yang lainnya.

“Anda tidak dapat memastikannya. Kecuali jika Anda membiakkan virus itu dan mengujinya di lab. Pada tahap ini, tidak ada alasan untuk percaya bahwa virus itu berkembang atau dapat membahayakan, tapi kami menandainya, sehingga kami terus memantau,” ucapnya.

Kini para ilmuwan India tengah mempelajari penyebab varian B1617 yang terdeteksi pertama kali di negara tersebut. Varian itu diduga menjadi penyebab jumlah kasus yang terus meningkat.

Diketahui, INSACOG merupakan forum yang dibentuk pemerintah India. Forum ini juga menggandeng sepuluh laboratorium penelitian nasional. (rh/gw/fin)

Be the first to comment on "GeNose Diyakini Bisa Deteksi Varian Baru"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: