Pendidik yang Bertanggungjawab dan Disiplin

SUKSES DAN HARMONIS. Dra Elin Yuliani MPd bersama suami, Ir Benni Saebani dan putra serta putri mereka. Mereka keluarga harnonis dan sukses.

Sebagai pendidik, Dra Elin Yuliani MPd (53) memiliki prinsip tanggung jawab dan disiplin bekerja.

Dengan begitu, dia bisa terus memberikan pendidikan, pembinaan, dan penguatan karakter kepada siswa demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Perempuan kelahiran Tasikmalaya ini, menjadi guru berawal dorong penuh dari orang tua, yang semuanya menjadi guru di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan saudara-saudaranya pun juga menjadi guru.

”Setelah saya diwisuda di SMAN 2 Tasikmalaya tahun 1986 ternyata diterima jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) di IKIP Bandung (UPI Bandung) mengambil Pendidikan Sejarah,” katanya kepada Radar di ruang Kepala SMAN 7 Tasikmalaya, Rabu (3/3/2021).

Namun, sebelum masuk IKIP Bandung, dia ingin berkuliah di Unpad. Alasannya waktu itu, sempat merenung karena cita-citanya awalnya bukan menjadi guru, tetapi ingin pegawai bank.

“Ternyata nasib sudah digariskan oleh Allah SWT dan restu orang tua. Akhirnya setelah masuk kuliah di IKIP Bandung dengan berbaur timbul lah rasa betah dan senang,” ujarnya yang sebagai anak ketiga dari lima bersaudara.

Buktinya Elin ini menyenangi belajar di IKIP Bandung, semasa kuliahnya dia memiliki nilai cukup baik.

Hal itu, juga bagian dari kontrak mahasiswa yang mengambil jalur PMDK yang otomatis terus diawasi prestasi akademiknya.

“Bersyukur pada tahun 1988 dari menjaga nilai baik ini, bisa mendapatkan beasiswa tunjangan ikatan dinas,” katanya menjelaskan.

Berkat mengikut kedinasan itu, dia pun mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 40.000 per bulan.

“Uang ini saya gunakan untuk biaya pendidikan seperti beli buku dan ikut kursus,” ujar menceritakan.

Dia pun berhasil lulus tepat waktu di IKIP Bandung pada tahun 1990 dan langsung masuk ikatan kedinasan yang otomatis harus mengikuti aturan. Termasuk ditempatkan di mana pun pengabdiannya menjadi tenaga pendidik harus siap.

“Kemudian pada tahun 1991, saya diangkat CPNS di Sekolah Menengah Kejuruan Seni Rupa Bandung yang sekarang menjadi SMKN 14 Bandung,” katanya mengenang.

Beberapa tahun kemudian, Elin pun pindah mengajarnya di SMA At Taqwa Bekasi Barat karena ikut suami.

“Di sana selama 4,5 tahun mengambil mata Pelajaran Sejarah, Tata Negara, dan Pendidikan Sejarah Pejuang Bangsa,” ujarnya menjelaskan.

Kemudian 1994, dia juga pindah kembali ke SMAN 2 Tasikmalaya, karena ikut suaminya bertugas di Tasikmalaya.

“Di sinilah saya mulai menata karier dengan aktif dalam kegiatan-kegiatan keprestasian ataupun organisasi profesi guru, seperti aktif menjadi ketua MGMP Sejarah Tasikmalaya,” katanya dengan semangat.

Lewat kegiatan keprestasian, dia berhasil mengembangkan hobinya bermain olahraga tenis meja bisa meraih penghargaan di Pekan Olahraga Pemerintah Daerah (Porpemda) dengan mendapatkan juara ketiga tingkat Jawa Barat.

“Kemudian juga pada tahun 2009 bisa menjadi juara guru prestasi tingkat Kota Tasikmalaya,” ujarnya sambil bersyukur.

Riwayat karier menjadi guru bagus ini, Elin pun dipercaya sebagai Wakasek Kesiswaan di SMAN 2 Tasikmalaya. Kemudian diusulkan untuk mengikuti pencalonan Kepala Sekolah pada 2014.

“Dari mengikuti seleksi berkas, tes tulis, dan wawancara lolos, hingga mengikuti diklat calon kepala sekolah.

Akhirnya 2015, dilantik dipercaya untuk memegang kepala SMAN 4 Tasikmalaya,” katanya alumnus Universitas Galuh Ciamis pada 2013 itu.

Dengan melewati lika likunya dinamika pendidikan yang banyak ini, Elin pun sebagai kepala sekolah terus memberikan keberhasilan dalam penguatan sekolahnya dengan pengembangan pendidikan.

Dengan begitu dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang efektif.

“Keberhasilan pun diapresiasi dengan menjadi kepala sekolah berprestasi tingkat Kota Tasikmalaya dan untuk penghargaan dari KCD Pendidikan Wilayah XII Tasikmalaya 2019,” ujarnya menceritakan.

Menginjak masa pengabdiannya selama 30 tahun, dia pun mendapatkan amanah baru menjadi kepala SMAN 7 Tasikmalaya.

Dengan komitmen untuk terus menjaga tanggung jawabnya seorang pendidik yang harus mengamalkan pengetahuannya kepada siswa dan melihat kemampuan siswa.

“Hal yang pokok bagi saya baik waktu menjadi guru ataupun kepala sekolah terus menjaga kedisiplinan waktu dan mempunyai tanggung jawab terhadap pekerjaan,” katanya menjelaskan.

Wujud penerapannya, karena Elin sudah menjadi kepal sekolah harus menjadi teladan kepada guru-guru dan siswanya.

“Saya selaku kepala sekolah harus menjadi contoh, seperti datang ke sekolah pagi-pagi dengan melaksanakan senyum, sapa, dan salam.

Lalu pemeriksaan daftar kehadiran dan masuk ke kelas-kelas,” ujarnya menjelaskan.

Dia pun programkan gerakan literasi sekolah, dengan membaca sesuai dengan minatnya.

“Manfaatnya supaya menggerakkan membaca siswa yang berdampak pada peningkatan mutu pendidikan,” kata dia menjelaskan.

 

Sukses Berkarier, Sukses Mengurus Keluarga

MEMBANGGAKAN. Dra Elin Yuliani MPd (kiri) sebagai Kepala SMAN 7 Tasikmalaya memberikan apresiasi kepada siswanya yang berprestasi dan membanggakan sekolah.

Dra Elin Yuliani MPd selain berhasil meniti karier hingga menjadi Kepala SMAN 7 Tasikmalaya juga sukses mengurus rumah tangga. Dia menjadi istri dan ibu yang baik.

Ibu tiga anak ini mengaku, sepanjang kariernya sebagai abdi negara, sejak 1991, berbagai asam garam hingga berpindah-pindah tempat pengabdian pernah dirasakannya.

Namun dia mengatur pekerjaan dan keluarga agar keduanya berjalan seimbang.

”Sebagai peran ibu sekaligus berkarier saya tidak melupakan untuk mengurus dan melayani suami dan anak,” kata istri dari Ir Benni Saebani itu.

Caranya, kata Elin, dia mengatur waktu antara pekerjaan dan membina keluarga. Lalu juga harus mendapatkan kepercayaan dari keluarga bahwa menjadi kepala sekolah harus pagi hingga sore, bahkan ke luar kota untuk pembinaan atau peningkatan mutu pendidik.

”Kuncinya yang penting mendapatkan izin dari suami dan keluarga sadar.

Saya pun tetap menyempatkan mengambil quality time dengan mengumpul di rumah orang tua ataupun setiap malam berkumpul bersama untuk berbincang-bincang,” ujarnya menjelaskan.

Menurut dia, menjadi wanita karier merupakan pilihan sekaligus kesempatan bagi perempuan untuk dapat berdaya.

Sebab, perempuan mempunyai banyak kelebihan, termasuk kemampuan serta kemauan untuk berkembang.

“Bukan alasan perempuan berkarier karena banyak kelebihan. Buktinya saya bersama suami bisa menyekolahkan anak pertama sampai mancanegara di Universitas Teknologi Petronas Malaysia untuk sarjananya dan melanjutkan pascasarjana di Universitas New South Wales Australia dengan semuanya mendapatkan beasiswa,” kata dia yang kini sudah mempunyai cucu satu itu.

“Lalu untuk anak kedua ini bisa menjadi dokter gigi. Anak ketiga rencananya ingin menjadi dokter gigi juga,” ujarnya dengan bangga. (riz)

Be the first to comment on "Pendidik yang Bertanggungjawab dan Disiplin"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: